Differences
This shows you the differences between two versions of the page.
Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision | ||
budaya:ekofeminisme_dalam_cermin_kaum_perempuan_pengrajin_purun_pedamaran [2023/02/01 21:22] – Yusi Septriandi | budaya:ekofeminisme_dalam_cermin_kaum_perempuan_pengrajin_purun_pedamaran [2023/03/05 02:59] (current) – Hardini Indarti | ||
---|---|---|---|
Line 1: | Line 1: | ||
====== Ekofeminisme dalam Cermin Kaum Perempuan Pengrajin Purun Pedamaran ====== | ====== Ekofeminisme dalam Cermin Kaum Perempuan Pengrajin Purun Pedamaran ====== | ||
- | Lahans | + | Lahan gambut yang merupakan sebuah ekosistem, didalam ekosistem tersebut terdapat interaksi hubungan timbal balik antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi antar faktor biotik selain melibatkan interaksi antara manusia dengan makhluk hidup lainnya tetapi juga melibatkan sebuah interaksi antar sesama manusia sehingga menciptakan interaksi sosial yang akan mengarah pada terbentuknya sebuah perkumpulan yang dinamakan masyarakat. Sehingga dalam melakukan proses restorasi lahan gambut, tidak bisa hanya dilakukan pemulihan dari dimensi ekologis-geologis tetapi perlu juga dilakukan pemulihan dalam dimensi masyarakat. Maka, kaum perempuan juga perlu dilibatkan dalam penerima manfaat sekaligus agen restorasi. |
Namun, selama ini peranan kaum perempuan dalam tatanan masyarakat sering tidak diakui dan tidak mendapatkan perhatian sehingga masih bersifat subordinatif. Ada 5 faktor yang menyebabkan timbulnya pandangan tersebut diantaranya (1) sistem tata nilai budaya yang masih menggunakan pola patriarkhi; (2) masih banyak peraturan perundang-undangan yang bias gender sehingga perempuan kurang mendapat perlindungan yang setara dengan laki-laki; (3) adanya kebijakan dan program pembangunan yang dikembangkan secara bias gender, sehingga perempuan kurang mendapat kesempatan untuk mengakses, mengontrol, berpartsisipasi dan menikmati hasil pembangunan; | Namun, selama ini peranan kaum perempuan dalam tatanan masyarakat sering tidak diakui dan tidak mendapatkan perhatian sehingga masih bersifat subordinatif. Ada 5 faktor yang menyebabkan timbulnya pandangan tersebut diantaranya (1) sistem tata nilai budaya yang masih menggunakan pola patriarkhi; (2) masih banyak peraturan perundang-undangan yang bias gender sehingga perempuan kurang mendapat perlindungan yang setara dengan laki-laki; (3) adanya kebijakan dan program pembangunan yang dikembangkan secara bias gender, sehingga perempuan kurang mendapat kesempatan untuk mengakses, mengontrol, berpartsisipasi dan menikmati hasil pembangunan; | ||
Line 7: | Line 7: | ||
Perempuan sejatinya memiliki keunggulan secara biologis alamiah dan secara sosial, yang mana kaum perempuan memiliki tanggung jawab dalam pengasuhan dan pengelolaan kehidupan rumah tangga sehari-hari seperi memberi nutrisi yang cukup bagi anak dan keluarga, memperoleh air besih,dan kebutuhan harian lainnya. Tak hayal, dengan adanya peranan tersebut, kaum perempuan lebih memiliki sensitivitas dalam kelestarian sumber daya alam seperti air, tanah, udara, flora dan fauna. | Perempuan sejatinya memiliki keunggulan secara biologis alamiah dan secara sosial, yang mana kaum perempuan memiliki tanggung jawab dalam pengasuhan dan pengelolaan kehidupan rumah tangga sehari-hari seperi memberi nutrisi yang cukup bagi anak dan keluarga, memperoleh air besih,dan kebutuhan harian lainnya. Tak hayal, dengan adanya peranan tersebut, kaum perempuan lebih memiliki sensitivitas dalam kelestarian sumber daya alam seperti air, tanah, udara, flora dan fauna. | ||
- | Peranan perempuan dalam pengelolan | + | Peranan perempuan dalam pengelolaan |
Kecamatan Pedamaran, merupakan kecamatan yang memiliki gambut yang kaya akan tanaman sumber daya tanaman purun. Karena kekayaan sumber daya tersebutlah, | Kecamatan Pedamaran, merupakan kecamatan yang memiliki gambut yang kaya akan tanaman sumber daya tanaman purun. Karena kekayaan sumber daya tersebutlah, |