Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

Both sides previous revision Previous revision
Next revision
Previous revision
ekosistem:biofisik_gambut [2023/12/16 21:28] Mentari Agustiniekosistem:biofisik_gambut [2024/06/04 02:56] (current) Rabbirl Yarham Mahardika
Line 1: Line 1:
 ====== Biofisik Gambut ====== ====== Biofisik Gambut ======
  
-** <font 28px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Story Of Peatland</font> **<imgcaption image1| Hasil Diskusi Kelompok 1>[[https://wikigambut.id/lib/exe/detail.php?id=ekosistem:biofisik_gambut&media=ekosistem:biofisikgambut.jpg|{{.:biofisikgambut.jpg?400  |biofisikgambut.jpg}}]]</imgcaption>+** <font 28px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Pembentukan Gambut</font>  **<imgcaption image1| Hasil Diskusi Kelompok 1>[[https://wikigambut.id/lib/exe/detail.php?id=ekosistem:biofisik_gambut&media=ekosistem:biofisikgambut.jpg|{{.:biofisikgambut.jpg?400  |biofisikgambut.jpg}}]]</imgcaption>
  
-Tanah gambut terbangun dari sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan sempurna selama ratusan bahkan ribuan tahun. Dekomposisi yang terhenti ini terjadi karena kondisi lahan gambut yang selalu tergenang air sehingga berada dalam kondisi anaerob/tidak ada udara. Kondisi tersebut menyebabkan bakteri dan organisme pengurai tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada akhirnya kondisi inilah yang menghentikan proses dekomposisi bahan organik di tanah gambut.+Tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan sempurna selama ratusan bahkan ribuan tahun. Dekomposisi yang terhenti ini terjadi karena kondisi lahan gambut yang selalu tergenang air sehingga berada dalam kondisi anaerob/tidak ada udara. Kondisi tersebut menyebabkan bakteri dan organisme pengurai tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada akhirnya kondisi inilah yang menghentikan proses dekomposisi bahan organik di tanah gambut.
  
 Kondisi biofisik gambut secara singkat dapat diartikan sebagai kondisi lingkungan gambut yang berkaitan dengan makhluk hidup di dalamnya, baik flora-fauna, maupun manusia. Kondisi biofisik gambut secara singkat dapat diartikan sebagai kondisi lingkungan gambut yang berkaitan dengan makhluk hidup di dalamnya, baik flora-fauna, maupun manusia.
  
 **Biofisik gambu**t adalah kondisi fisik lingkungan yang berkaitan dengan makhluk hidup, sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan baik. **Biofisik gambu**t adalah kondisi fisik lingkungan yang berkaitan dengan makhluk hidup, sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan baik.
- 
-Cara memanfaatkan Tanah Gambut 
-1. Membasahi tanah 
-2. Menanam kembali tanaman 
-3. Memperbaiki tanaman agar tidak gundul 
- 
 =====   ===== =====   =====
  
-=====   =====+----
  
 +==== Biofisik Gambut Sumatera Selatan ====
  
 +World Wide Fund for Nature (WWF) dalam peta ekosistemnya (2001) menyebutkan bahwa Sumatera Selatan terbagi ke dalam 5 jenis ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem rawa gambut, ekosistem rawa, ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem hutan hujan dataran tinggi. Ekosistem yang membentang dari pantai hingga pegunungan menyebabkan Sumatera Selatan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.
  
 +Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3,805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya.
  
 +----
  
-====== Biofisik Gambut Sumatera Selatan ====== +==== Kondisi biofisik bentang lahan Sumatera Selatan ====
- +
- +
-WWF dalam peta ekosistemnya (2001) menyebutkan bahwa Sumatera Selatan terbagi ke dalam 5 jenis ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem rawa gambut, ekosistem rawa, ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem hutan hujan dataran tinggi. Ekosistem yang membentang dari pantai hingga pegunungan menyebabkan Sumatera Selatan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. +
- +
-Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3,805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya.+
  
 \\ \\
-Kondisi biofisik bentang lahan Sumatera Selatan di interpretasikan kedalam 27 kelas tutupan lahan. Pembagian kelas ini didasarkan dari hasil kebutuhan kajian yang ingin dilakukan dengan disesuaikan juga ketersediaan data. Kelas tutupan lahan yang dapat dijangkau seperti kebun monokultur (sawit, karet dan akasia) kopi agroforestri, karet agroforestri dan kebun buah. Setiap kelas tutupan lahan akan di ukur cadangan karbon dengan metode pengukuran plot. Karbon tersimpan tertinggi berada pada kelas tutupan hutan primer (204 ton CO2 per ha) dan hutan rawa primer (193,2 ton CO2 per ha), untuk kebun karet agroforestri sebesar 75,17 ton CO2 per ha, hutan tanaman industri sebesar 57,9 ton CO2 per ha dan kelapa sawit sebesar 39,52 ton CO2 per ha. Cadangan karbon nanti akan dijadikan data dasar analisis emisi karbon pada sub bab berikutnya. Gambar 3.1.1 menunjukkan cadangan karbon dari 27 kelas tutupan lahan yang digunakan dalam kajian dokumen rencana restorasi ekosistem gambut.+**Kondisi biofisik bentang lahan Sumatera Selatan** diinterpretasikan kedalam 27 kelas tutupan lahan. Pembagian kelas ini didasarkan dari hasil kebutuhan kajian yang ingin dilakukan dengan disesuaikan juga ketersediaan data. Kelas tutupan lahan yang dapat dijangkau seperti kebun monokultur (sawit, karet dan akasia) kopi agroforestri, karet agroforestri dan kebun buah. Setiap kelas tutupan lahan akan di ukur cadangan karbon dengan metode pengukuran plot. Karbon tersimpan tertinggi berada pada kelas tutupan hutan primer (204 ton CO2 per ha) dan hutan rawa primer (193,2 ton CO2 per ha), untuk kebun karet agroforestri sebesar 75,17 ton CO2 per ha, hutan tanaman industri sebesar 57,9 ton CO2 per ha dan kelapa sawit sebesar 39,52 ton CO2 per ha. Cadangan karbon nanti akan dijadikan data dasar analisis emisi karbon pada sub bab berikutnya. Gambar 3.1.1 menunjukkan cadangan karbon dari 27 kelas tutupan lahan yang digunakan dalam kajian dokumen rencana restorasi ekosistem gambut.
  
  
  • ekosistem/biofisik_gambut.1702762121.txt.gz
  • Last modified: 2023/12/16 21:28
  • by Mentari Agustini