Differences
This shows you the differences between two versions of the page.
Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision | ||
ekosistem:biofisik_gambut [2023/12/16 21:55] – Mentari Agustini | ekosistem:biofisik_gambut [2024/06/04 02:56] (current) – Rabbirl Yarham Mahardika | ||
---|---|---|---|
Line 1: | Line 1: | ||
====== Biofisik Gambut ====== | ====== Biofisik Gambut ====== | ||
- | ** <font 28px/Times New Roman, | + | ** <font 28px/Times New Roman, |
Tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan sempurna selama ratusan bahkan ribuan tahun. Dekomposisi yang terhenti ini terjadi karena kondisi lahan gambut yang selalu tergenang air sehingga berada dalam kondisi anaerob/ | Tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan sempurna selama ratusan bahkan ribuan tahun. Dekomposisi yang terhenti ini terjadi karena kondisi lahan gambut yang selalu tergenang air sehingga berada dalam kondisi anaerob/ | ||
Line 8: | Line 8: | ||
**Biofisik gambu**t adalah kondisi fisik lingkungan yang berkaitan dengan makhluk hidup, sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan baik. | **Biofisik gambu**t adalah kondisi fisik lingkungan yang berkaitan dengan makhluk hidup, sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lain yang tidak terdekomposisi dengan baik. | ||
- | |||
- | |||
- | |||
- | |||
===== ===== | ===== ===== | ||
- | ===== ===== | + | ---- |
+ | ==== Biofisik Gambut Sumatera Selatan ==== | ||
+ | World Wide Fund for Nature (WWF) dalam peta ekosistemnya (2001) menyebutkan bahwa Sumatera Selatan terbagi ke dalam 5 jenis ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem rawa gambut, ekosistem rawa, ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem hutan hujan dataran tinggi. Ekosistem yang membentang dari pantai hingga pegunungan menyebabkan Sumatera Selatan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. | ||
+ | Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3,805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya. | ||
+ | ---- | ||
- | ====== Biofisik Gambut | + | ==== Kondisi biofisik bentang lahan Sumatera Selatan ==== |
- | + | ||
- | + | ||
- | World Wide Fund for Nature (WWF) dalam peta ekosistemnya (2001) menyebutkan bahwa Sumatera Selatan terbagi ke dalam 5 jenis ekosistem, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem rawa gambut, ekosistem rawa, ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem hutan hujan dataran tinggi. Ekosistem yang membentang dari pantai hingga pegunungan menyebabkan Sumatera Selatan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. | + | |
- | + | ||
- | Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3,805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk | + | |
- | (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya. | + | |
\\ | \\ | ||
- | **Kondisi biofisik bentang lahan Sumatera Selatan** | + | **Kondisi biofisik bentang lahan Sumatera Selatan** |