Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision |
ekosistem:karakteristik_umum_dan_sebaran_gambut_di_kalimantan_barat [2023/02/02 19:55] – Yusi Septriandi | ekosistem:karakteristik_umum_dan_sebaran_gambut_di_kalimantan_barat [2023/09/09 03:49] (current) – [Bibliografi] Rabbirl Yarham Mahardika |
---|
====== Karakteristik Umum dan Sebaran Gambut di Kalimantan Barat ====== | ====== Karakteristik Umum dan Sebaran Gambut di Kalimantan Barat ====== |
| |
Gambut di Kalimantan Barat sama seperti gambut pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik yang khas dan beragam. Sejumlah hasil riset terdahulu terkait karakteristik gambut menunjukkan variabilitas sifat-sifat tanah gambut yang ditentukan oleh banyak faktor seperti ketebalan gambut, tutupan lahan atau vegetasi penutup, lama waktu penggunaan lahan, pengaruh budidaya, kejadian bencana kebakaran dan lain sebagainya. Beberapa data penelitian terkait karakteristik gambut yang dikumpulkan dari beberapa penggunaan lahan di Kecamatan Terentang Kubu Raya<sup>(1) </sup> menunjukkan pada perkebunan [[:tumbuhan:karet|]] kedalaman gambut rata-rata 213 cm, bobot isi rata-rata 0,15 g.cm<sup>-3</sup> dan pH tanah rata-rata 4,08. Hasil penelitian yang sama masing-masing untuk perkebunan kelapa sawit rakyat dan jahe, kedalaman gambut rata-rata 365 cm dan 80 cm, bobot isi 0,21 dan 0,21 serta pH tanah 3,98 dan 3,90. Data karakteristik pada gambut di Rasau Jaya Kubu Raya<sup>(2)</sup> menunjukkan angka yang berbeda, ketebalan gambut berkisar antara 150 - 650 cm, bobot isi pada lapisan permukaan berkisar antara 0,07 - 0,21 g.cm<sup>-3</sup> . Ketebalan gambut yang ada di Kalimantan Barat sangat beragam dari tebal 50 cm hingga mencapai belasan meter. Gambut yang berada di Putussibau Kapuas Hulu dapat mencapai ketebalan hingga lebih dari 1.500 cm. Gambut di Kota Pontianak berkisar kedalaman 450 - 600 cm. Bencana kebakaran yang kerap melanda sejumlah wilayah juga mempengaruhi ketebalan dan sebaran gambut di Kalimantan Barat. | Gambut di Kalimantan Barat sama seperti gambut pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik yang khas dan beragam. Sejumlah hasil riset terdahulu terkait karakteristik gambut menunjukkan variabilitas sifat-sifat tanah gambut yang ditentukan oleh banyak faktor seperti ketebalan gambut, tutupan lahan atau vegetasi penutup, lama waktu penggunaan lahan, pengaruh budidaya, kejadian bencana kebakaran dan lain sebagainya. Beberapa data penelitian terkait karakteristik gambut yang dikumpulkan dari beberapa penggunaan lahan di Kecamatan Terentang Kubu Raya<sup>1 </sup> menunjukkan pada perkebunan [[https://wikigambut.id/tumbuhan/karet|karet]] kedalaman gambut rata-rata 213 cm, bobot isi rata-rata 0,15 g.cm<sup>-3</sup> dan pH tanah rata-rata 4,08. Hasil penelitian yang sama masing-masing untuk perkebunan kelapa sawit rakyat dan jahe, kedalaman gambut rata-rata 365 cm dan 80 cm, bobot isi 0,21 dan 0,21 serta pH tanah 3,98 dan 3,90. Data karakteristik pada gambut di Rasau Jaya Kubu Raya<sup>(2)</sup> menunjukkan angka yang berbeda, ketebalan gambut berkisar antara 150 - 650 cm, bobot isi pada lapisan permukaan berkisar antara 0,07 - 0,21 g.cm<sup>-3</sup> . Ketebalan gambut yang ada di Kalimantan Barat sangat beragam dari tebal 50 cm hingga mencapai belasan meter. Hasil penelitian di Desa Kubu Padi menunjukkan bahwa angka kedalaman lapisan gambut bervariasi dengan rentang kedalaman 400-700 cm. Bobot isi pada lapisan permukaan di Desa Kubu Padi berkisar antara 0,14 g.cm<sup>-3</sup> sampai 0,18 g.cm<sup>-3</sup> . Gambut yang berada di Putussibau Kapuas Hulu dapat mencapai ketebalan hingga lebih dari 1.500 cm. Gambut di Kota Pontianak berkisar kedalaman 450 - 600 cm. Bencana kebakaran yang kerap melanda sejumlah wilayah juga mempengaruhi ketebalan dan sebaran gambut di Kalimantan Barat. Berdasarkan tingkat kematangan gambut dibedakan menjadi tiga yaitu fibrik (mentah), hemik (setengah matang) dan saprik (matang). Tingkat kematangan gambut pada lapisan atas di Desa Kubu Padi didominasi hemik saprik. |
<font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>Berdasarkan data Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (2019) tercatat bahwa luas gambut di Kalimantan Barat adalah 1.547.876,25 hektar yang tersebar pada semua kabupaten dan kota. Kabupaten yang memiliki areal gambut terluas adalah Kubu Raya diikuti Kabupaten Ketapang dan Kapuas Hulu.</font> {{ .:peta_sebaran_dan_kedalaman_gambut_di_kalimantan_barat.jpg?nolink&600 }}\\ | <font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>Berdasarkan data Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (2019) tercatat bahwa luas gambut di Kalimantan Barat adalah 1.547.876,25 hektar yang tersebar pada semua kabupaten dan kota. Kabupaten yang memiliki areal gambut terluas adalah Kubu Raya diikuti Kabupaten Ketapang dan Kapuas Hulu.</font> \\ |
<font 14px/inherit;;inherit;;inherit>kosistem gambut di Kalimantan Barat menyimpan potensi yang sangat besar, baik dari aspek lingkungan, biodiversitas maupun sosial ekonomi. Terdapat dua taman nasional yang berada di atas lahan gambut yang ada di Kalimantan Barat, yaitu Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung. Sejumlah satwa dan tumbuhan endemik lahan gambut banyak dijumpai di kawasan taman nasional ini, di antaranya orangutan borneo (//Pongo pymaeus//), kelempiau (//Hylobates albiibarbisini//), bekantan (//Nasalis larvatus//), ikan arwana (//Scleropagus formosus//), anggrek hitam (//Coelogyne pandurata//), rotan kapuas (//Korthalsia ferox //Beccari) dan masih banyak lagi. Selain itu sejumlah riset yang dilakukan di lahan gambut Kalimantan Barat menunjukkan bahwa gambut tropis yang ada di sana sudah sejak lama menjadi pengatur iklim global dan sekuester karbon sejak puluhan ribu tahun yang lalu.</font> | {{ https://wikigambut.id/_media/ekosistem/peta_sebaran_dan_kedalaman_gambut_di_kalimantan_barat.jpg?nolink&600 |peta_sebaran_dan_kedalaman_gambut_di_kalimantan_barat.jpg}}\\ |
<font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>Pengukuran umur gambut pada sejumlah lokasi di Kalimantan Barat<sup>(2)</sup>, di antaranya pada gambut pesisir di Kubu Raya dan gambut pedalaman di Kapuas Hulu. Hasil riset ini menunjukkan bahwa gambut pedalaman di Kapuas Hulu sudah terbentuk sejak 47.800 tahun yang lalu. Kedalaman gambut pada lokasi riset tersebut mencapai ketebalan hingga 18 m. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan gambut di Kalimantan Barat telah menjadi penyeimbang karbon global sejak puluhan ribu tahun hingga saat ini, yang apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan maka akan menyebabkan tragedi dan bencana ekologis yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah terjadi sebelumnya. Pemanfaatan sumberdaya lahan yang diproyeksikan ke depan adalah lahan yang berlandaskan asas keberlanjutan lingkungan namun dengan tetap meningkatkan produktivitas.</font> | <font 14px/inherit;;inherit;;inherit>Ekosistem gambut di Kalimantan Barat menyimpan potensi yang sangat besar, baik dari aspek lingkungan, biodiversitas maupun sosial ekonomi. Terdapat dua taman nasional yang berada di atas lahan gambut yang ada di Kalimantan Barat, yaitu Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung. Sejumlah satwa dan tumbuhan endemik lahan gambut banyak dijumpai di kawasan taman nasional ini, di antaranya orangutan borneo (//Pongo pymaeus//), kelempiau (//Hylobates albiibarbisini//), bekantan (//Nasalis larvatus//), ikan arwana (//Scleropagus formosus//), anggrek hitam (//Coelogyne pandurata//), rotan kapuas (//Korthalsia ferox //Beccari) dan masih banyak lagi. Selain itu sejumlah riset yang dilakukan di lahan gambut Kalimantan Barat menunjukkan bahwa gambut tropis yang ada di sana sudah sejak lama menjadi pengatur iklim global dan sekuester karbon sejak puluhan ribu tahun yang lalu.</font> |
| <font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>Pengukuran umur gambut pada sejumlah lokasi di Kalimantan Barat<sup>2</sup>, di antaranya pada gambut pesisir di Kubu Raya dan gambut pedalaman di Kapuas Hulu. Hasil riset ini menunjukkan bahwa gambut pedalaman di Kapuas Hulu sudah terbentuk sejak 47.800 tahun yang lalu. Kedalaman gambut pada lokasi riset tersebut mencapai ketebalan hingga 18 m. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan gambut di Kalimantan Barat telah menjadi penyeimbang karbon global sejak puluhan ribu tahun hingga saat ini, yang apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan maka akan menyebabkan tragedi dan bencana ekologis yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah terjadi sebelumnya. Pemanfaatan sumberdaya lahan yang diproyeksikan ke depan adalah lahan yang berlandaskan asas keberlanjutan lingkungan namun dengan tetap meningkatkan produktivitas.</font> |
| |
===== Bibliografi ===== | ===== Bibliografi ===== |
| |
(1) Jamaludin, E. Gusmayanti, and G. Z. Anshari, "Emisi Karbon Dioksida (CO2) dari Pertanian Skala Kecil di Lahan Gambut," //Jurnal Ilmu Lingkungan//, vol. 18, no. 3, pp. 582-588, Nov. 2020. [[https://doi.org/10.14710/jil.18.3.582-588|https://doi.org/10.14710/jil.18.3.582-588]] | <sup>1</sup> Jamaludin, E. Gusmayanti, and G. Z. Anshari, "Emisi Karbon Dioksida (CO2) dari Pertanian Skala Kecil di Lahan Gambut," //Jurnal Ilmu Lingkungan//, vol. 18, no. 3, pp. 582-588, Nov. 2020. [[https://doi.org/10.14710/jil.18.3.582-588|https://doi.org/10.14710/jil.18.3.582-588]] |
<font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>(2) Ruwaimana, M., Anshari, G. Z., Silva, L. C. R., Gavin, D. G.: The oldest extant tropical peatland in the world: a major carbon reservoir for at least 47 000 years. Environmental Research Letters 15 (2020) 114027, 2020.</font> | |
| <sup> <font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>2</font> </sup> |
| <font 14px/Arial,Helvetica,sans-serif;;inherit;;inherit>Ruwaimana, M., Anshari, G. Z., Silva, L. C. R., Gavin, D. G.: The oldest extant tropical peatland in the world: a major carbon reservoir for at least 47 000 years. Environmental Research Letters 15 (2020) 114027, 2020.</font> |
| |
| |