ekosistem:karbon_organik_terlarut

Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

Both sides previous revision Previous revision
Next revision
Previous revision
ekosistem:karbon_organik_terlarut [2022/10/31 03:11] Akbar Aksi Gemilangekosistem:karbon_organik_terlarut [2024/06/05 04:44] (current) Fajar Wahyu Nugroho
Line 2: Line 2:
  
 ====== Karbon Organik Terlarut ====== ====== Karbon Organik Terlarut ======
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Tanah gambut merupakan tanah yang mememiliki kandungan karbon organik yang tinggi yaitu sekitar 50-60%, serta merupakan tanah yang memiliki kondisi reduktif dengan kadar air yang sangat tinggi 300-1.300% berat kering, oleh karena itu air pada tanah gambut memiliki konsentrasi karbon organik. Pertanyaannya berapa besar konsentrasi tersebut?</font> \\ 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Sebelum menyampaikan konsentrasi tersebut alangkah baiknya perlu diketahui bahwa karbon organik air terdapat 2 jenis yaitu karbon organik terlarut</font>  / 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>dissolved organic carbon (DOC) dan karbon organik partikulat / particulate organic carbon (POC) yang merupakan hasil dari proses dekomposisi bahan organik. DOC merupakan karbon organik yang paling dominan di dalam air yang bersumber dari lahan gambut (IPCC, 2014). Berdasarkan hasil penelitian Nuriman //et al// (2015) menyatakan bahwa Total Organic Carbon lahan gambut sebesar 99% adalah berupa DOC.</font> \\ 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Beberapa hasil penelitian konsentrasi DOC di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1. Terlihat pada tabel tersebut menunjukkan bahwa pada saluran drainase di Rasau Jaya Kalimantan Barat memiliki konsentrasi DOC berkisar 6.4-77.3 mg/l dengan rataan 44.88 mg/l. Hasil ini lebih besar dibandingkan konsentrasi DOC pada sungai-sungai penelitian sebelumnya, yang berada di Sungai Kahayan dan Rungan, Sungai Siak, dan Sungai Sebangau.</font> \\ 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Tabel 1. Konsentrasi DOC gambut di beberapa saluran/sungai yang ada di Indonesia</font> 
  
-| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Lokasi</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Kisaran DOC</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Rataan DOC</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sumber</font>    |+Tanah gambut merupakan tanah yang mememiliki kandungan karbon organik yang tinggi yaitu sekitar 50-60%, serta merupakan tanah yang memiliki kondisi reduktif dengan kadar udara yang sangat tinggi 300-1.300% berat kering, oleh karena itu udara pada tanah gambut memiliki konsentrasi karbon organik. Pertanyaannya berapa besar konsentrasi tersebut? \\ 
 +Sebelum menyampaikan konsentrasi tersebut alangkah perlu diketahui bahwa karbon organik udara terdapat 2 jenis yaitu karbon organik terlarut / karbon organik terlarut (DOC) dan karbon organik partikulat / karbon organik partikulat (POC) yang merupakan hasil dari proses dekomposisi bahan organik. DOC merupakan karbon organik yang paling dominan di dalam udara yang bersumber dari lahan gambut (IPCC, 2014). Berdasarkan hasil penelitian Nuriman dkk (2015) menyatakan bahwa Total Karbon Organik lahan gambut sebesar 99% adalah berupa DOC. 
 + 
 +\\ 
 +Beberapa hasil penelitian konsentrasi DOC di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1. Terlihat pada tabel tersebut menunjukkan bahwa pada saluran drainase di Rasau Jaya Kalimantan Barat memiliki konsentrasi DOC berkisar 6.4-77.3 mg/l dengan rataan 44.88 mg/l. Hasil ini lebih besar dibandingkan konsentrasi DOC pada sungai-sungai penelitian sebelumnya, yang berada di Sungai Kahayan dan Rungan, Sungai Siak, dan Sungai Sebangau. 
 + 
 +\\ 
 +**Tabel 1** Konsentrasi DOC gambut di beberapa saluran/sungai yang ada di Indonesia 
 + 
 +| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Lokasi</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Kisaran DOK</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Rataan DOC</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sumber</font>    |
 |   | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>(mg/l)</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>(mg/l)</font>    |   | |   | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>(mg/l)</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>(mg/l)</font>    |   |
-| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Dumai, Sumatra</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>7.2-60.6</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>-</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Alkhatib //et al.// 2007</font>    | +| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Dumai, Sumatera</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>7.2-60.6</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>-</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Alkhatib //dkk.// 2007</font>    | 
-| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Siak, Sumatra</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>6.72-31.13</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>14.88</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Baum //et al.// 2007</font>    | +| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Siak, Sumatera</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>6.72-31.13</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>14.88</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Baum //dkk.// 2007</font>    | 
-| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Kahayan dan Rungan, Kalimantan Tengah</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>5.5-49.6</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>13.28</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Ishikawa //et al//. 2006</font>    | +| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Kahayan dan Rungan, Kalimantan Tengah</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>5.5-49.6</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>13.28</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Ishikawa //dkk// . 2006</font>    | 
-| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Sebangau, Kalimantan Tengah</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>6.8-55.3</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>42.2</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Moore //et al//. 2011</font>    | +| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Sungai Sebangau, Kalimantan Tengah</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>6.8-55.3</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>42.2</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Moore //dkk// . 2011</font>    | 
-| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Saluran-Saluran Rasau Jaya, Kalimantan Barat</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>6.38-77.3</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>44.88</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Nuriman //et al//. 2015</font>    | +| <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Saluran-Saluran Rasau Jaya, Kalimantan Barat</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>6.38-77.3</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>44.88</font>    | <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>Nuriman //dkk// . 2015</font>    | 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Hasil penelitian Nuriman //et al//, 2016 menunjukkan bahwa konsentrasi DOC air tanah gambut pada beberapa penggunaan lahan memiliki hasil yang bervariasi. DOC air tanah yang berada di hutan memiliki DOC paling besar dibandingkan penggunaan lahan lainnya, sedangkan pada lahan pertanian memiliki DOC paling kecil (Gambar 1)</font>  .\\ + 
-{{:docdanpenggunaanlahan.jpg?nolink&200x127|docdanpenggunaanlahan.jpg}}\\ +Hasil penelitian Nuriman dkk, 2016 menunjukkan bahwa konsentrasi DOC air tanah gambut pada beberapa penggunaan lahan memiliki hasil yang bervariasi. DOC air tanah yang berada di hutan memiliki DOC paling besar dibandingkan penggunaan lahan lainnya, sedangkan pada lahan pertanian memiliki DOC paling kecil (Gambar 1). 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Gambar 1. Konsentrasi DOC air tanah gambut pada beberapa penggunaan lahan</font> \\+
 \\ \\
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Hasil penelitian Nuriman //et al// (2016) juga menunjukkan bahwa konsentrasi DOC relatif menurun ketika mendekati lapisan mineral, diduga</font> +<imgcaption image1|Konsentrasi DOC air tanah gambut pada beberapa penggunaan lahan> {{  .:docdan_penggunaan_lahan.jpg?nolink&600  |docdan_penggunaan_lahan.jpg}}</imgcaption> 
- <font inherit/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>disebabkan oleh faktor dekomposisi di bagian tengah dan bawah yang lebih kecil dibandingkan bagian atas (Gambar 2). Hasil tersebut disebabkan karena bagian atas merupakan bagian yang dekat lapisan oksidasi, sehingga aktifitas dekomposisi lebih besar dibandingkan bagian tengah dan bawah, akibatnya DOC di bagian atas lebih besar dibandingkan tengah dan bawah. Bagian yang sedikit mengalami dekomposisi bahan organik merupakan bagian yang sedikit konsentrasi DOC. Hasil ini diperkuat dengan terjadinya penurunan nilai DOM berdasarkan pendekatan nilai absorban 254 nm dari bagian atas ke bagian tengah dan bawah mendekati lapisan mineral.</font> \\ + 
-{{:docdanabs.jpg?nolink&200x173|docdanabs.jpg}}\\ +Hasil penelitian Nuriman et al (2016) juga menunjukkan bahwa konsentrasi DOC relatif menurun ketika mendekati lapisan mineral, diduga disebabkan oleh faktor dekomposisi di bagian tengah dan bawah yang lebih kecil dibandingkan bagian atas (Gambar 2). Hasil tersebut disebabkan karena bagian atas merupakan bagian yang dekat lapisan oksidasi, sehingga aktifitas dekomposisi lebih besar dibandingkan bagian tengah dan bawah, akibatnya DOC di bagian atas lebih besar dibandingkan tengah dan bawah. Bagian yang sedikit mengalami dekomposisi bahan organik merupakan bagian yang sedikit konsentrasi DOC. Hasil ini diperkuat dengan terjadinya penurunan nilai DOM berdasarkan pendekatan nilai serapan 254 nm dari bagian atas ke bagian tengah dan bawah mendekati lapisan mineral. 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Gambar 2. Konsentrasi DOC dan Absorbance 254 nm pada setiap kedalaman sampling\\+
 \\ \\
-Kenapa perlu mengetahui konsentrasi DOC? Jawabannya karena dengan mengetahui stok DOC air tanah, serta dengan mengetahui konsentrasi DOC yang berada di saluran, menunjukkan potensi DOC yang akan terlepas ke luar terestrial. Banyak peneliti menyatakan pelepasan DOC mempunyai pengaruh signifikan terhadap siklus</font> +<imgcaption image2|Konsentrasi DOC dan Absorbance 254 nm pada setiap kedalaman sampling> {{  .:doc_dan_abs.jpg?nolink&400x347  |doc_dan_abs.jpg}}</imgcaption> 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;black;;inherit>karbon (Leenheer dan Croue, 2003; Baum //et al//. 2007; Moore et al. 2011</font>   ), + 
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>berbeda dengan hasil penelitian Laure //et al// (2020) menyatakan bahwa DOC dari lahan gambut mengalami pengenceran dan organo metalik complek ketika aliran DOC melewati lahan mineral sehingga menurunkan fluks DOC ke laut. Hasil tersebut menyebabkan perlu diteliti lebih lanjut besaran fluk DOC ke lautan.</font>+Mengapa perlu mengetahui konsentrasi DOC? Jawabannya karena dengan mengetahui stok DOC air tanah, serta dengan mengetahui konsentrasi DOC yang berada di saluran, menunjukkan potensi DOC yang akan terlepas ke luar terestrial. Banyak peneliti menyatakan pelepasan DOC mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap siklus karbon (Leenheer dan Croue, 2003; Baum et al. 2007; Moore et al. 2011 ), berbeda dengan hasil penelitian Laure et al (2020) menyatakan bahwa DOC dari lahan gambut mengalami pengenceran dan organo metalik kompleks ketika aliran DOC melewati lahan mineral sehingga menurunkan fluks DOC ke laut. Hasil tersebut menyebabkan perlunya diteliti lebih lanjut besaran fluk DOC ke lautan. 
 + 
 +=====   ===== 
 + 
 +---- 
 + 
 +====== Daftar Pustaka: ======
  
 \\ \\
- <font 14px/Times New Roman,Times,serif;;inherit;;inherit>Sumber:</font> \\ +[[https://aslopubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.4319/lo.2007.52.6.2410|Alkhatib M, Jennerjahn TC, Samiaji J. 2007. Biogeokimia muara Sungai Dumai, Sumatra, Indonesia, sungai air hitam tropis. Limnol Oseanogr. 52(6):2410–2417. ]]\\ 
-[[https://aslopubs.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.4319/lo.2007.52.6.2410|Alkhatib M, Jennerjahn TC, Samiaji J. 2007. Biogeochemistry of the Dumai River estuary, Sumatra, Indonesia, a tropical black-water river. Limnol Oceanogr. 52(6):2410–2417.]]\\ +[[https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0272771407000637|Baum A, Rixen T, Samiaji J. 2007. Relevansi sungai yang mengalirkan gambut di Sumatera bagian tengah terhadap masukan karbon organik terlarut dari sungai ke lautMuaraPantai dan Rak Sci. 73(3):563-570. ]]\\ 
-[[https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0272771407000637|Baum A, Rixen T, Samiaji J. 2007. Relevance of peat draining rivers in central Sumatra for the riverine input of dissolved organic carbon into the oceanEstuariCoast and Shelf Sci. 73(3):563-570.]]\\ +[[https://www.ipcc.ch/publication/2013-supplement-to-the-2006-ipcc-guidelines-for-national-greenhouse-gas-inventories-wetlands/|[IPCC] Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim. 2014. Tambahan 2013 pada Pedoman IPCC 2006 untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca NasionalLahan Basah. Hiraishi T, Krug T, Tanabe K, Srivastava N, Baasansuren J, Fukuda M, Troxler TG (Eds.). Swiss (CH): IPCC. ]]\\ 
-[[https://www.ipcc.ch/publication/2013-supplement-to-the-2006-ipcc-guidelines-for-national-greenhouse-gas-inventories-wetlands/|[IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2014. 2013 Supplement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas InventoriesWetlands. Hiraishi T, Krug T, Tanabe K, Srivastava N, Baasansuren J, Fukuda M, Troxler TG (Eds.). Swiss (CH): IPCC.]]\\ +[[https://link.springer.com/article/10.1007/s10201-006-0174-0|Ishikawa T, Trisliana, Yurenfrie, Ardianor, Gumiri S. 2006. Konsentrasi karbon organik terlarut dari hubungan alami badan air dengan warna air di Kalimantan Tengah, Indonesia. Limnologi. 7:143-146. ]]\\ 
-[[https://link.springer.com/article/10.1007/s10201-006-0174-0|Ishikawa T, Trisliana, Yurenfrie, Ardianor, Gumiri S. 2006. Dissolved organic carbon concentration of a natural water body relationship to water color in Central Kalimantan, Indonesia. Limnology. 7:143-146.]]\\ +[[https://bg.copernicus.org/articles/17/1897/2020/|Laure Gandois, Hoyt AM, Mounier S, Roux GL, Harvey CF, Claustres A, Nuriman M, dan Anshari G. 2020. Dari kanal hingga pantaibahan organik terlarut dan komposisi logam di sungai yang mengeringkan lahan gambut tropis terdegradasi di Indonesia. Biogeosains, 17, 1897–1909. ]]\\ 
-[[https://bg.copernicus.org/articles/17/1897/2020/|Laure Gandois, Hoyt A M, Mounier S, Roux G L, Harvey C F, Claustres A, Nuriman M, and Anshari G. 2020. From canals to the coastdissolved organic matter and trace metal composition in rivers draining degraded tropical peatlands in Indonesia. Biogeosciences, 17, 1897–1909.]]\\ +[[https://pubs.acs.org/doi/10.1021/es032333c|Leenheer, JAdan JP Croue. 2003. Karakterisasi Bahan Terlarut Bahan Organik PerairanSains Teknologi Lingkungan. 1:18-26. ]]\\ 
-[[https://pubs.acs.org/doi/10.1021/es032333c|Leenheer, J.A.and J.P. Croue. 2003. Characterizing DissolvedAquatic Organic MatterEnvironmental Science Technology. 1: 18-26.]]\\ +[[https://bg.copernicus.org/articles/8/901/2011/|Moore S, Gauci V, Evans CD, Halaman SE. 2011. Kehilangan karbon organik fluvial dari sungai blackwater di KalimantanBiogeosains. 8:901-909. ]]\\ 
-[[https://bg.copernicus.org/articles/8/901/2011/|Moore S, Gauci V, Evans CD, Page SE. 2011. Fluvial organic carbon losses from a Bornean blackwater riverBiogeosciences. 8:901-909.]]\\ +[[https://www.researchgate.net/publication/335910588_Dissolved_organic_carbon_DOC_in_peat_water_suggests_limit_to_decomposition|Nuriman M. 2015. Karbon Organik Terlarut dan Partikulat pada Saluran Udara dan Air Tanah Gambut Rasau Jaya, Kalimantan Barat. Tesis. Gudang Institut Pertanian Bogor.]]
-[[https://www.researchgate.net/publication/335910588_Dissolved_organic_carbon_DOC_in_peat_water_suggests_limit_to_decomposition|Nuriman M. 2015. Karbon Organik Terlarut dan Partikulat pada Air Saluran dan Air Tanah Gambut Rasau Jaya, Kalimantan Barat. Tesis. Repository Institut Pertanian Bogor.]]+
  
-[[https://www.researchgate.net/publication/335910588_Dissolved_organic_carbon_DOC_in_peat_water_suggests_limit_to_decomposition|Nuriman M, Djajakirana G, Darmawan, Anshari G. 2016. Dissolved organic carbon (DOC) in peat water suggests limit to decomposition15th International Peat Congress. Kuching, Malaysia.]]+[[https://www.researchgate.net/publication/335910588_Dissolved_organic_carbon_DOC_in_peat_water_suggests_limit_to_decomposition|Nuriman M, Djajakirana G, Darmawan, Anshari G. 2016. Karbon organik terlarut (DOC) dalam air gambut menunjukkan batas dekomposisiKongres Gambut Internasional ke-15. Kuching, Malaysia.]]
  
  
  • ekosistem/karbon_organik_terlarut.1667185907.txt.gz
  • Last modified: 2023/01/17 22:52
  • (external edit)