Differences
This shows you the differences between two versions of the page.
Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision | ||
ekosistem:pengelolaan_lahan_gambut [2024/06/04 01:56] – removed - external edit (Unknown date) 127.0.0.1 | ekosistem:pengelolaan_lahan_gambut [2024/06/04 06:13] (current) – Rabbirl Yarham Mahardika | ||
---|---|---|---|
Line 1: | Line 1: | ||
+ | ====== Pengelolaan Gambut Berkelanjutan ====== | ||
+ | |||
+ | ====== Pengelolaan Gambut Berkelanjutan ====== | ||
+ | |||
+ | {{ https:// | ||
+ | |||
+ | ===== Pengelolaan Lahan Gambut untuk Perkebunan Kelapa Sawit ===== | ||
+ | |||
+ | {{https:// | ||
+ | |||
+ | Tanaman kelapa sawit di Indonesia semakin bertambah dan dilakukan tidak hanya pada lahan optimal, tetapi juga pada lahan marginal. Lahan gambut merupakan salah satu lahan marginal yang menjadi target penanaman kelapa sawit. Pemanfaatan lahan gambut untuk tanaman kelapa sawit telah banyak dilakukan oleh perusahaan dan petani. Hal ini dikarenakan kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada lahan gambut asalkan dikelola dengan baik. Langkah pengelolaan lahan gambut untuk perkebunan sawit dapat dilakukan dengan cara peningkatan produktivitas lahan diantaranya. | ||
+ | |||
+ | ===== Langkah Peningkatan Produktivitas Lahan Gambut ===== | ||
+ | |||
+ | Upaya meningkatkan produktivitas lahan gambut, dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi pengelolaan air, ameliorasi dan pemupukan serta pemilihan komoditas yang tepat. | ||
+ | |||
+ | 1. Pengelolaan air | ||
+ | |||
+ | Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian berkelanjutan harus dimulai dari perencanaan penataan lahan yang disesuaikan dengan karakteristik lahan gambut setempat, dan komoditas yang akan dikembangkan. Penataan lahan meliputi aktivitas mengatur jaringan saluran drainase, perataan tanah (leveling), pembersihan tunggul, pembuatan surjan, guludan, dan pembuatan drainase dangkal intensif. Namun demikian, gambut tidak boleh terlalu kering karena gambut akan mengalami kerusakan dan menimbulkan emisi GRK yang tinggi. | ||
+ | |||
+ | 2. Pemilihan komoditas yang sesuai | ||
+ | |||
+ | Pemilihan komoditas yang mampu beradaptasi baik dilahan gambut sangat penting untuk mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi. Pemilihan komoditas disesuaikan dengan daya adaptasi tanaman, nilai ekonomi, kemampuan modal, keterampilan, | ||
+ | |||
+ | 3. Ameliorasi lahan | ||
+ | |||
+ | Ameliorasi diperlukan untuk mengatasi kendala reaksi tanah masam dan keberadaan asam organik beracun, sehingga media perakaran tanaman menjadi lebih baik. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah (Subiksa et al., 1997; Mario, 2002; Salampak, 1999). | ||
+ | |||
+ | 4. Pemupukan | ||
+ | |||
+ | Pemupukan diperlukan karena secara inheren tanah gambut sangat miskin mineral dan hara yang diperlukan tanaman. Jenis pupuk yang diperlukan adalah pupuk lengkap terutama yang mengandung N, P, K, Ca, Mg dan unsur mikro Cu, Zn dan B. Pemupukan harus dilakukan secara bertahap dan dengantakaran rendah karena daya pegang (sorption power) hara tanah gambut rendah sehingga pupuk mudah tercuci. Penggunaan pupuk lepas lambat (slow release) seperti fosfat alam dan Pugam lebih baik dibandingkan dengan SP-36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). | ||
+ | |||
+ | 5. Pengurangan Emisi GRK | ||
+ | |||
+ | Faktor pendorong terjadinya emisi GRK yang berlebihan di lahan gambut antara lain adalah kebakaran lahan, pembuatan saluran drainase dan pengelolaan lahan. Mempertahankan karbon dalam tanah dan tanaman menjadi isu lingkungan sangat penting karena konsentrasi karbon di udara berpengaruh terhadap pemanasan global. | ||
+ | |||
+ | 6. Pengendalian muka air tanah | ||
+ | |||
+ | Kunci pengendalian muka air tanah adalah mengatur dimensi saluran drainase, terutama kedalamannya, | ||
+ | |||
+ | 7. Kompleksasi | ||
+ | |||
+ | Emisi GRK adalah hasil dari proses dekomposisi gambut menjadi senyawa karbon dengan rantai pendek. Proses dekomposisi lebih lanjut dapat ditekan dengan proses kompleksasi senyawa organik sederhana menjadi senyawa kompleks. Kompleksasi dapat dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan amelioran yang kaya dengan kation polivalen. Kation polivalen memiliki energi afinitas yang tinggi terhadap gugus fungsional bahan organik membentuk jembatan kation yang merangkai senyawa organik. Senyawa kompleks yang terbentuk sangat tahan terhadap dekomposisi sehingga emisi karbon bisa ditekan. | ||
+ | |||
+ | 8. Persiapan lahan tanpa bakar | ||
+ | |||
+ | Emisi karbon paling masif terjadi saat kebakaran gambut, baik karena kesengajaan maupun tidak sengaja. Pengalihan dari cara tradisional dengan cara membakar kepada metode tanpa membakar, diperlukan cara alternatif lain yang bisa diterima masyarakat. | ||
+ | |||
+ | 9. Tanaman penutup tanah | ||
+ | |||
+ | Untuk mengurangi emisi GRK dari lahan pertanian, maka tanah gambut harus diusahakan tertutup vegetasi. Tanaman penutup tanah sebagai tanaman sela di perkebunan akan sangat membantu mempertahankan kelembapan tanah dan mitigasi kebakaran lahan. | ||
+ | |||
+ | 10. Pengaturan pola tanam | ||
+ | |||
+ | Pada prinsipnya pengaturan pola tanam di lahan gambut bertujuan mengurangi lamanya waktu tanah dalam keadaan terbuka yang memicu terjadinya emisi. | ||
+ | |||
+ | Sumber :\\ | ||
+ | - [[http:// | ||
+ | |||
+ | - Sabiham, S., Lahan, S., & Sukarman, S. (2012). Pengelolaan lahan gambut untuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia. | ||
+ | |||
+ | \\ | ||
+ | Foto : Berita 99.co and Sawitmedia.com | ||
+ | |||