| Gambut di Kalimantan Barat sama seperti gambut pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik yang khas dan beragam. Sejumlah hasil riset terdahulu terkait karakteristik gambut menunjukkan variabilitas sifat-sifat tanah gambut yang ditentukan oleh banyak faktor seperti ketebalan gambut, tutupan lahan atau vegetasi penutup, lama waktu penggunaan lahan, pengaruh budidaya, kejadian bencana kebakaran dan lain sebagainya. Beberapa data penelitian terkait karakteristik gambut yang dikumpulkan dari beberapa penggunaan lahan di Kecamatan Terentang Kubu Raya<sup>1 </sup> menunjukkan pada perkebunan [[https://wikigambut.id/tumbuhan/karet|karet]] kedalaman gambut rata-rata 213 cm, bobot isi rata-rata 0,15 g.cm<sup>-3</sup> dan pH tanah rata-rata 4,08. Hasil penelitian yang sama masing-masing untuk perkebunan kelapa sawit rakyat dan jahe, kedalaman gambut rata-rata 365 cm dan 80 cm, bobot isi 0,21 dan 0,21 serta pH tanah 3,98 dan 3,90. Data karakteristik pada gambut di Rasau Jaya Kubu Raya<sup>(2)</sup> menunjukkan angka yang berbeda, ketebalan gambut berkisar antara 150 - 650 cm, bobot isi pada lapisan permukaan berkisar antara 0,07 - 0,21 g.cm<sup>-3</sup> . Ketebalan gambut yang ada di Kalimantan Barat sangat beragam dari tebal 50 cm hingga mencapai belasan meter. Hasil penelitian di Desa Kubu Padi menunjukkan bahwa angka kedalaman lapisan gambut bervariasi dengan rentang kedalaman 400-700 cm. Bobot isi pada lapisan permukaan di Desa Kubu Padi berkisar antara 0,14 g.cm<sup>-3</sup> sampai 0,18 g.cm<sup>-3</sup> . Gambut yang berada di Putussibau Kapuas Hulu dapat mencapai ketebalan hingga lebih dari 1.500 cm. Gambut di Kota Pontianak berkisar kedalaman 450 - 600 cm. Bencana kebakaran yang kerap melanda sejumlah wilayah juga mempengaruhi ketebalan dan sebaran gambut di Kalimantan Barat. Berdasarkan tingkat kematangan gambut dibedakan menjadi tiga yaitu fibrik (mentah), hemik (setengah matang) dan saprik (matang). Tingkat kematangan gambut pada lapisan atas di Desa Kubu Padi didominasi hemik saprik. | Gambut di Kalimantan Barat sama seperti gambut pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik yang khas dan beragam. Sejumlah hasil riset terdahulu terkait karakteristik gambut menunjukkan variabilitas sifat-sifat tanah gambut yang ditentukan oleh banyak faktor seperti ketebalan gambut, tutupan lahan atau vegetasi penutup, lama waktu penggunaan lahan, pengaruh budidaya, kejadian bencana kebakaran dan lain sebagainya. Beberapa data penelitian terkait karakteristik gambut yang dikumpulkan dari beberapa penggunaan lahan di Kecamatan Terentang Kubu Raya<sup>1 </sup> menunjukkan pada perkebunan [[https://wikigambut.id/tumbuhan/karet|karet]] kedalaman gambut rata-rata 213 cm, bobot isi rata-rata 0,15 g.cm<sup>-3</sup> dan pH tanah rata-rata 4,08. Hasil penelitian yang sama masing-masing untuk perkebunan kelapa sawit rakyat dan jahe, kedalaman gambut rata-rata 365 cm dan 80 cm, bobot isi 0,21 dan 0,21 serta pH tanah 3,98 dan 3,90. Data karakteristik pada gambut di Rasau Jaya Kubu Raya<sup>(2)</sup> menunjukkan angka yang berbeda, ketebalan gambut berkisar antara 150 - 650 cm, bobot isi pada lapisan permukaan berkisar antara 0,07 - 0,21 g.cm<sup>-3</sup> . Ketebalan gambut yang ada di Kalimantan Barat sangat beragam dari tebal 50 cm hingga mencapai belasan meter. Hasil penelitian di Desa Kubu Padi menunjukkan bahwa angka kedalaman lapisan gambut bervariasi dengan rentang kedalaman 400-700 cm. Bobot isi pada lapisan permukaan di Desa Kubu Padi berkisar antara 0,14 g.cm<sup>-3</sup> sampai 0,18 g.cm<sup>-3</sup> . Gambut yang berada di Putussibau Kapuas Hulu dapat mencapai ketebalan hingga lebih dari 1.500 cm. Gambut di Kota Pontianak berkisar kedalaman 450 - 600 cm. Bencana kebakaran yang kerap melanda sejumlah wilayah juga mempengaruhi ketebalan dan sebaran gambut di Kalimantan Barat. Berdasarkan tingkat kematangan gambut dibedakan menjadi tiga yaitu fibrik (mentah), hemik (setengah matang) dan saprik (matang). Tingkat kematangan gambut pada lapisan atas di Desa Kubu Padi didominasi hemik saprik. |