Differences
This shows you the differences between two versions of the page.
Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision | ||
integrasi_pengelolaan_lahan_gambut_untuk_pakan_ternak_bagi_ternak_ruminansia [2022/10/25 05:04] – removed - external edit (Unknown date) 127.0.0.1 | integrasi_pengelolaan_lahan_gambut_untuk_pakan_ternak_bagi_ternak_ruminansia [2023/01/17 20:16] (current) – external edit 127.0.0.1 | ||
---|---|---|---|
Line 1: | Line 1: | ||
+ | {{tag> | ||
+ | |||
+ | ====== Integrasi Pengelolaan Lahan Gambut untuk pakan ternak bagi ternak Ruminansia ====== | ||
+ | |||
+ | Rawa gambut merupakan lahan basah (// | ||
+ | |||
+ | Peternakan merupakan sektor yang sangat penting untuk menunjang kebutuhan protein hewani bagi masyarakat, namun lahan penggembalaan hijauan semakin terbatas, maka dari itu pemerintah harus memikirkan langkah kedepan agar sektor peternakan tidak kekurangan lahan hijauan pengembalaan untuk pakan ternak. Salah satu solusi dari pemerintah adalah memanfaatkan lahan gambut untuk pemeliharaan ternak ruminansia. | ||
+ | |||
+ | Beberapa pustaka menyatakan bahwa kawasan lahan gambut yang sementara ini dianggap tidak subur sebenarnya memiki potensi tinggi sebagai sentra pertanian dan peternakan. Tanaman tertentu mempunyai tingkat adaptasi tinggi pada kondisi spesifik seperti lahan gambut. Hal ini telah dinyatakan oleh Institut Pertanian Bogor yang telah mampu mendapatkan tanaman pangan, seperti kentang yang memiliki kemampuan adaptasi dan produksi yang tinggi di lahan gambut. Secara alami kawasan gambut memiliki berbagai macam jenis tanaman yang potensial dan bernutrisi tinggi sebagai pakan ternak seperti rumput kumpai dan duckweed yang selama ini dianggap gulma oleh masyarakat meskipun hingga saat ini produktivitasnya masih rendah.Hingga saat ini belum banyak dilakukan kajian mendalam terkait potensi, adaptasi dan produktivitas hijauan pakan di lahan gambut. Oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai varietas hijauan pakan ternak pada tanah gambut untuk mewujudkan lumbung pakan hijauan di lahan gambut | ||
+ | |||
+ | Rumput alam pada lahan gambut basah memiliki kandungan protein yang tinggi dimana tumbuhan rumput kumpai minyak dan kumpai batu ini yang mampu tumbuh di area lahan gambut basah serta tidak terdapat introduksi tumbuhan lain yang hidup di hamparan rawa gambut. (Aman dan Harsita, 2019) menyatakan bahwa pakan merupakan salah satu faktor terpenting dalam pengembangan ternak. (Sari dkk., 2016) menyatakan penyediaan hijauan dari peternak masih merupakan masalah utama dikarenakan keterbatasan lahan untuk menanam khusus hijauan pakan dan umumnya akan semakin sulit didapat pada musim kemarau sehingga berdapak kekurangan pakan. Lahan gambut bisa menjadi alternatif pengembangan ternak karena lahan gambut memiliki potensi hijuan alamiah yang berlimpah baik pada musim kemarau maupun musim penghujan. | ||
+ | |||
+ | Rumput kumpai merupakan salah satu jenis rumput rawa yang berpotensi cukup baik sebagai hijauan makanan ternak dengan habitat di daerah rawa atau payau yang cerah, terbuka serta tumbuh lebih baik ditempat tergenang air dengan kedalaman air mencapai 1 – 2 meter (Akhadiarto dan Fariani, 2012). Lahan gambut di Sumatera Selatan memiliki peluang dan potensi yang tinggi sebagai sentra pertanian dan peternakan karena memiliki hijauan alam yang berlimpah (Febriani dkk., 2018). Salah satu faktor terpenting dalam menjaga kestabilan peternakan adalah tersedianya hijauan pakan yang berkualitas untuk makanan ternak agar produktivitas ternak dapat optimal. Pemanfaatan hijauan alam lahan gambut sebagai sumber pakan ternak diharapkan dapat meningkatkan sektor peternakan rakyat maupun komesil | ||
+ | |||
+ | Daftar Pustaka | ||
+ | |||
+ | Kristyan Amiano, Yemima, Dwi Dedeh Kurnia Sari. 2021. Produktivitas Sapi Bali Jantan yang dipelihara di Lahan Gambut Basah. Jurnal | ||
+ | |||