kebijakan_program:dimensi_gender_dalam_pengelolaan_lahan_gambut

Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

kebijakan_program:dimensi_gender_dalam_pengelolaan_lahan_gambut [2023/10/28 08:24] – created - external edit 127.0.0.1kebijakan_program:dimensi_gender_dalam_pengelolaan_lahan_gambut [2026/02/17 16:23] (current) Sephira Tiara Dwi
Line 2: Line 2:
  
 {{https://wikigambut.id/lib/plugins/ckgedit/fckeditor/userfiles/image/preservingpurun.jpg?nolink&500x667|preservingpurun.jpg}} {{https://wikigambut.id/lib/plugins/ckgedit/fckeditor/userfiles/image/preservingpurun.jpg?nolink&500x667|preservingpurun.jpg}}
 +
 +Istilah gender diperkenalkan oleh para ahli ilmu sosial untuk menjelaskan perbedaan antara perempuan dan laki-laki, baik yang bersifat kodrati sebagai ciptaan Tuhan maupun yang merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya yang dipelajari serta ditanamkan sejak usia dini. Pembedaan ini penting karena selama ini sering terjadi kekeliruan dalam mencampurkan karakteristik yang bersifat alami dengan yang sebenarnya merupakan bentukan sosial (gender). Pemahaman tentang perbedaan peran gender membantu kita meninjau kembali pembagian peran yang selama ini dianggap melekat secara tetap pada perempuan dan laki-laki. Dengan demikian, dapat dibangun konsep relasi gender yang lebih dinamis, relevan, dan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat. Secara sosial, perbedaan konsep gender tersebut pada akhirnya melahirkan perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat.
  
 Gender adalah aspek penting dalam konteks lahan gambut. Peran tradisional berbeda antara pria dan wanita dalam masyarakat sering mencerminkan pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam penggunaan lahan gambut. Upaya konservasi dan restorasi lahan gambut harus mempertimbangkan peran gender ini dan memastikan bahwa perempuan memiliki peran yang setara dalam pengambilan keputusan, akses terhadap sumber daya, dan manfaat dari pelestarian lahan gambut. Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lahan gambut dapat membantu menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi dan sosial mereka. Gender adalah aspek penting dalam konteks lahan gambut. Peran tradisional berbeda antara pria dan wanita dalam masyarakat sering mencerminkan pemisahan tugas dan tanggung jawab dalam penggunaan lahan gambut. Upaya konservasi dan restorasi lahan gambut harus mempertimbangkan peran gender ini dan memastikan bahwa perempuan memiliki peran yang setara dalam pengambilan keputusan, akses terhadap sumber daya, dan manfaat dari pelestarian lahan gambut. Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lahan gambut dapat membantu menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi dan sosial mereka.
Line 44: Line 46:
 ---- ----
  
-Dewi KH (2023) The Dimension of Gender in Peatland Management in Rantau Baru Village.  [[https://link.springer.com/bookseries/10124|Global Environmental Studies]] book series (GENVST), [[https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-99-0902-5|Local Governance of Peatland Restoration in Riau, Indonesia]] pp 147–168.+Dewi KH (2023) The Dimension of Gender in Peatland Management in Rantau Baru Village. [[https://link.springer.com/bookseries/10124|Global Environmental Studies]] book series (GENVST), [[https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-99-0902-5|Local Governance of Peatland Restoration in Riau, Indonesia]] pp 147–168.
  
 Elmhirst R, Siscawati M, Basnett BS et al (2017) Gender and generation in engagements with oil palm in East Kalimantan, Indonesia: insights from feminist political ecology. J Peasant Stud 44(6):1135–1157. [[https://doi.org/10.1080/03066150.2017.1337002|https://doi.org/10.1080/03066150.2017.1337002]]. Elmhirst R, Siscawati M, Basnett BS et al (2017) Gender and generation in engagements with oil palm in East Kalimantan, Indonesia: insights from feminist political ecology. J Peasant Stud 44(6):1135–1157. [[https://doi.org/10.1080/03066150.2017.1337002|https://doi.org/10.1080/03066150.2017.1337002]].
Line 57: Line 59:
  
 Mugniesyah SSM, Mizuno K (2007) Access to land in Sundanese community: a case study of upland peasant households in Kemang village, West Java, Indonesia. Southeast Asian Stud 44(4):519–544. [[https://doi.org/10.20495/tak.44.4_519|https://doi.org/10.20495/tak.44.4_519]]. Mugniesyah SSM, Mizuno K (2007) Access to land in Sundanese community: a case study of upland peasant households in Kemang village, West Java, Indonesia. Southeast Asian Stud 44(4):519–544. [[https://doi.org/10.20495/tak.44.4_519|https://doi.org/10.20495/tak.44.4_519]].
 +
 +Puspitawati, H. (2013). Konsep, teori dan analisis gender. //Bogor: Departe-men Ilmu Keluarga dan Kon-sumen Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian//.
  
 Resurreccion BP (2008) Gender, legitimacy and patronage-driven participation: fisheries management in the Tonle Sap Great Lake, Cambodia. In: Resurreccion BP, Elmhirst R (eds) Gender and natural resource management: livelihoods, mobility and interventions. Earthscan, London; Sterling, pp 151–173. Resurreccion BP (2008) Gender, legitimacy and patronage-driven participation: fisheries management in the Tonle Sap Great Lake, Cambodia. In: Resurreccion BP, Elmhirst R (eds) Gender and natural resource management: livelihoods, mobility and interventions. Earthscan, London; Sterling, pp 151–173.
  • kebijakan_program/dimensi_gender_dalam_pengelolaan_lahan_gambut.txt
  • Last modified: 2026/02/17 16:23
  • by Sephira Tiara Dwi