Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision |
sejarah:gambut_era_pra_sriwijaya [2022/10/21 04:12] – Yusi Septriandi | sejarah:gambut_era_pra_sriwijaya [2023/02/04 12:24] (current) – Yusi Septriandi |
---|
====== Gambut Era Pra-Sriwijaya ====== | ====== Gambut Era Pra-Sriwijaya ====== |
| |
{{:a.-rumah-panggung-yang-tersisa-di-rawa-gambut-cengal-kabupaten-oki-sumsel.-foto-taufik-wijaya.jpg?nolink&300x199|a.-rumah-panggung-yang-tersisa-di-rawa-gambut-cengal-kabupaten-oki-sumsel.-foto-taufik-wijaya.jpg}} | <imgcaption image1|Rumah panggung yang tersisa di rawa gambut Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir>{{ .:rumah_panggung_yang_tersisa_di_rawa_gambut_cengal_kabupaten_oki_sumsel.jpg?300x200}}</imgcaption> Daerah dengan perairan rawa air, gambut dan sering disebut dengan istilah lahan basah atau wetland. Lahan basah di pesisir timur Sumatra berada pada cekungan Sumatra Selatan yang memiliki hutan tropika dataran rendah, hutan rawa air tawar yang memiliki beraneka spesies pohon seperti meranti ( Shorea sp ), jelutung ( Dyera lawii ), ramin ( Gonistylus bancanus ), keruing ( Dipteocarpus sp ). Lahan basah di Sumatra Selatan berada di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Situs-situs arkeologiberada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lalan, Sembilang, Banyuasin, Air Sugihan dan Sungai Lumpur. |
| |
Daerah dengan perairan rawa air, gambut dan sering disebut dengan istilah lahan basah atau wetland. Lahan basah di pesisir timur Sumatra berada pada cekungan Sumatra Selatan yang memiliki hutan tropika dataran rendah, hutan rawa air tawar yang memiliki beraneka spesies pohon seperti meranti ( Shorea sp ), jelutung ( Dyera lawii ), ramin ( Gonistylus bancanus ), keruing ( Dipteocarpus sp ). Lahan basah di Sumatra Selatan berada di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Situs-situs arkeologiberada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lalan, Sembilang, Banyuasin, Air Sugihan dan Sungai Lumpur. | {{:2.-fragmen-gerabah-dan-keramik-cina-dari-situs-kanal-12.-foto-n.-rangkuti.jpg?nolink&200x150|2.-fragmen-gerabah-dan-keramik-cina-dari-situs-kanal-12.-foto-n.-rangkuti.jpg}} |
| |
{{:2.-fragmen-gerabah-dan-keramik-cina-dari-situs-kanal-12.-foto-n.-rangkuti.jpg?nolink&300x225|2.-fragmen-gerabah-dan-keramik-cina-dari-situs-kanal-12.-foto-n.-rangkuti.jpg}} | |
| |
Temuan arkeologi berupa tiang bangunan rumah, tembikar, bagian dari perahu, manik-manik, dan temuan prasasti berbahan logam (timah). Temuan-temuan tersebut menandakan bahwa daerah tersebut telah menjadi pemukiman yang berasal dari masa prasriwijaya jauh sebelum Islam masuk ke Sumatra Selatan. Temuan arkeologi berupa tiang bangunan rumah, tembikar, bagian dari perahu, manik-manik, dan temuan prasasti berbahan logam (timah). Temuan-temuan tersebut menandakan bahwa daerah tersebut telah menjadi pemukiman yang berasal dari masa pra sriwijaya jauh sebelum Islam masuk ke Sumatra Selatan. Situs Air Sugihan merupakan salah satu pusat hunian awal sejarah di Pantai Timur Sumatera Selatan di masa lampau. Secara umum, keadaan lingkungan Situs Air Sugihan merupakan daerah yang didominasi oleh dataran rawa gambut yang terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi sawah. Dengan lingkungan rawa tersebut bagaimana manusia dapat beradaptasi dan melangsungkan kehidupannya sesuai dengan karakterisitik lingkungan yang ada. Untuk mengetahui hal tersebut maka dilakukan survei dan pangamatan lingkungan terhadap pemukiman di wilayah Situs Air Sugihan yang bertujuan untuk mengetahui proses adaptasi masyarakat setempat dengan lingkungannya. Dari survei tersebut diketahui bahwa masyarakat mengubah lingkungan rawa gambut untuk memenuhi kebutuhannya, baik untuk bermukim maupun untuk kebutuhan sehari-hari, dengan kearifan mereka, mereka memanfaatkan tumbuhan nibung (Oncosperma tigillarium), jelutung (Dyera pollyphylla), dan bakau (Rihzophoraceae) yang ada disekitarnya untuk membuat peralatan dan bangunan tempat mereka tinggal berupa rumah - rumah panggung guna melindungi diri mereka dari banjir, maupun dari binatang buas serta membuka lahan untuk sawah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan sumber daya alam yang ada, masyarakat dengan kearifan mereka telah mengelola lingkungan sesuai dengan kebutuhannya. | Temuan arkeologi berupa tiang bangunan rumah, tembikar, bagian dari perahu, manik-manik, dan temuan prasasti berbahan logam (timah). Temuan-temuan tersebut menandakan bahwa daerah tersebut telah menjadi pemukiman yang berasal dari masa prasriwijaya jauh sebelum Islam masuk ke Sumatra Selatan. Temuan arkeologi berupa tiang bangunan rumah, tembikar, bagian dari perahu, manik-manik, dan temuan prasasti berbahan logam (timah). Temuan-temuan tersebut menandakan bahwa daerah tersebut telah menjadi pemukiman yang berasal dari masa pra sriwijaya jauh sebelum Islam masuk ke Sumatra Selatan. Situs Air Sugihan merupakan salah satu pusat hunian awal sejarah di Pantai Timur Sumatera Selatan di masa lampau. Secara umum, keadaan lingkungan Situs Air Sugihan merupakan daerah yang didominasi oleh dataran rawa gambut yang terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi sawah. Dengan lingkungan rawa tersebut bagaimana manusia dapat beradaptasi dan melangsungkan kehidupannya sesuai dengan karakterisitik lingkungan yang ada. Untuk mengetahui hal tersebut maka dilakukan survei dan pangamatan lingkungan terhadap pemukiman di wilayah Situs Air Sugihan yang bertujuan untuk mengetahui proses adaptasi masyarakat setempat dengan lingkungannya. Dari survei tersebut diketahui bahwa masyarakat mengubah lingkungan rawa gambut untuk memenuhi kebutuhannya, baik untuk bermukim maupun untuk kebutuhan sehari-hari, dengan kearifan mereka, mereka memanfaatkan tumbuhan nibung (Oncosperma tigillarium), jelutung (Dyera pollyphylla), dan bakau (Rihzophoraceae) yang ada disekitarnya untuk membuat peralatan dan bangunan tempat mereka tinggal berupa rumah - rumah panggung guna melindungi diri mereka dari banjir, maupun dari binatang buas serta membuka lahan untuk sawah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan sumber daya alam yang ada, masyarakat dengan kearifan mereka telah mengelola lingkungan sesuai dengan kebutuhannya. |