Di Malaysia dikenal dengan nama tuba ikan. Di wilayah Palembang disebut balam riedam atau balam terong, sementara di Riau dan Palembang juga dikenal sebagai dangkoe. Masyarakat Rawas menyebutnya gango, dan suku Dayak mengenalnya dengan nama ketong murung. Kayu Pimeleodendron macrocarpum dapat digunakan sebagai kayu kontruksi ringan.
Kingdom: Plantae
Phylum: Streptophyta
Class: Equisetopsida
Subclass: Magnoliidae
Order: Malpighiales
Family: Euphorbiaceae
Genus: Pimeleodendron
Species: Pimeleodendron macrocarpum
Pohon Pimeleodendron macrocarpum berukuran sedang dengan tinggi mencapai ±25 m dan diameter batang sekitar 40 cm. Batangnya berbentuk silindris, sedikit berbanir, dengan kulit luar halus hingga agak beralur dangkal, kadang-kadang sedikit bersisik, berwarna merah jambu sampai kecokelatan. Kulit bagian dalam berwarna kehijauan dan mengeluarkan getah putih apabila dilukai. Kayu gubal berwarna putih dan bertekstur lunak. Daun Pimeleodendron macrocarpum tunggal, tersusun berseling, berbentuk bundar telur hingga lonjong agak lebar, dengan pangkal meruncing, tepi bergerigi, serta ujung berlekuk dan bertangkai panjang. Perbungaan berupa tandan yang muncul pada batang maupun ranting tanpa daun. Bunganya berkelamin tunggal, dengan bunga jantan berada di bagian pangkal tandan dan bunga betina di bagian ujung. Buah Pimeleodendron macrocarpum berbentuk bulat agak memanjang, berwarna kuning saat masak, tersusun menggerombol, dan mengandung banyak biji.
Pimeleodendron macrocarpum dapat ditemukan pada daerah rawa, rawa gambut dan hutan dataran rendah hingga perbukitan hingga ketinggian 600m. Pimeleodendron macrocarpum tersedia di hutan sebagai penyusun lapisan bawah kanopi hutan. Persebaran Pimeleodendron macrocarpum sangat luas, mulai dari Borneo, Sumatera, hingga Semenanjung Malaysia.