sosialekonomi:pengupas_kelapa_menjadi_solusi_bertahan_hidup_di_lahan_gambut

Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

Both sides previous revision Previous revision
Next revision
Previous revision
sosialekonomi:pengupas_kelapa_menjadi_solusi_bertahan_hidup_di_lahan_gambut [2022/10/14 07:47] – removed - external edit (Unknown date) 127.0.0.1sosialekonomi:pengupas_kelapa_menjadi_solusi_bertahan_hidup_di_lahan_gambut [2023/02/04 10:40] (current) Yusi Septriandi
Line 1: Line 1:
 +====== Pengupas Kelapa Menjadi Solusi Bertahan Hidup di Lahan Gambut ======
 +
 +{{:pengupaskelapa.png?nolink&200x146}}
 +
 +Buruh pengupas kelapa menjadi solusi dalam bertahan hidup di Desa Daya Kesuma (Sumber: ICRAF/Fadilla Surya Army)\\
 +Program transmigrasi di Indonesia dimulai sejak tahun (1937-1940), terlebih di Sumatera Selatan yang dimana merupakan lokasi dari tersebarnya masyarakat transmigrasi. Lokasi transmigrasi di Sumatera Selatan terkenal dari daerah yang biasa disebut daerah “Jalur”. Banyuasin dan Ogan Komering ilir merupakan daerah yang memiliki lahan gambut yang luas dan menyimpan segudang cerita dari penghidupan masyarakat transmigrasi.
 +
 +Jika kita berbicara tentang pengidupan masyarakat di lahan gambut tak lupun dengan pembicaraan masyarakat transmigrasi. Berbagai upaya telah dilakukan masyarakat transmigrasi dalam bertahan hidup mulai dari mengelola lahan di lahan gambut, beternak maupun berdagang. Hampir merata masyarakat yang dilahan gambut memanfaatkan lahan 3 Ha yang diberikan pemerintah dalam program transmigrasi mereka kelolah menjadi sawah maupun kebun.
 +
 +Sebagai salah satu contohnya Pak Saefudin yang merupakan masyarakat trasnmigrasi yang bertempatan di Desa Daya Kesuma, Kecamatan muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin. Beliau bekerja sebagai upahan pengupas kelapa walaupun juga memiliki kebun kelapa. Hal ini untuk memanfaatkan waktu kosong mengingat perawatan kebun kelapa hanya dilakukan beberapa kali. Sebagai pengupas kelapa, Pak Saefudin mendapatkan upah Rp.100/biji, sedangkan jika sudah termasuk memanjat, mengumpulkan dan mengupas upah yang didapat Rp. 400/biji. Dalam satu hektar lahan, pemanenan dilakukan selama 2 atau tiga bulan sekali dengan jumlah 1500-2000 buah. Selain sistem upah perbiji, ada juga petani yang menggunakan sistem bagi 3 untuk pemanenan, 2 untuk pimilik dan satu untuk pemanen.
 +
 +Sistem bagi 2 dilakukan jika pekerja panen juga melakukan perawatan seperti pemupukan, penyemprotan dan perbaikan kanal dengan modal berasal dari orang yang mengelola. Ada juga yang menggunakan sistem borongan dengan upah Rp. 400.000/hektar ataupun harian dengan upah Rp. 150.000/hari. Biaya pengumpulan kelapa dari lahan menuju titik pengumpuluan melalui kanal pasang surut mengupah Rp. 100.000/hari. Peremajaan kelapa dilakukan secara pilih-pilih diantara kelapa yang sudah tidak berbuah atau akan mati. Kelapa dijual Rp. 2.300/biji dengan melebihkan 50 biji dalam 1000 biji untuk tanggungan apabila da buah yang busuk atau tidak bagus.
 +
 +Lika-liku penghidupan masyarakat di lahan gambut tak luput menurunkan semangat dari masyarakat yang tinggal disana, berbagai permasalahan yang timbul dalam penghidupan mereka pun sudah dilalui dengan berbagai solusi.
 +
 +{{tag>rintisan}}
 +