bincang_gambut_kalimantan_barat_seri_11_peran_lahan_dalam_ketahanan_pangan

This is an old revision of the document!


Bincang Gambut Seri-11 : Peran Lahan Gambut dalam Ketahanan Pangan

Bagian ini merupakan resume dari kegiatan, materi presentasi masing-masing narasumber dapat diakses pada bagian webinar.

1. Ranking Global Ketahanan Pangan Indonesia mengalami fluktuasi selama periode 2014-2022. Peringkat tertinggi dicapai pada tahun 2018 di peringkat 62. 2. Pada tahun 2022, skor Global Food Security Index (GFSI) Indonesia mencapai 60.2, lebih rendah dari rata-rata global (62.2) dan rata-rata Asia-Pasifik (63.4). 3. Rendahnya ranking GFSI Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Ketersediaan Pangan: Produksi pangan domestik masih belum mencukupi kebutuhan, sehingga Indonesia masih harus mengimpor bahan pangan. Keterjangkauan Pangan: Harga pangan di Indonesia masih relatif tinggi, sehingga masyarakat miskin dan rentan kesulitan untuk mengakses pangan yang cukup dan bergizi. Kualitas dan Keamanan Pangan: Masih terdapat masalah kualitas dan keamanan pangan di Indonesia, seperti residu pestisida, pencemaran bahan pangan, dan penyakit bawaan makanan. Data sensus tani di Indonesia menunjukkan kecenderungan data yang signifikan, seperti: * Peningkatan luas panen padi Peningkatan produksi padi Peningkatan produktivitas padi Peningkatan keragaman tanaman pangan


Penggunaan Lahan: 1. Jumlah rumah tangga yang terlibat dalam aktivitas pertanian (RTUP Pengguna Lahan) meningkat dari 26,14 juta pada tahun 2013 menjadi 28,42 juta pada tahun 2023. 2. Proporsi petani kecil (Petani Kecil) tetap tinggi, dengan variasi signifikan antar wilayah. 3. Jumlah rumah tangga yang menggarap lahan sempit (<0,5 ha) berfluktuasi dari waktu ke waktu, menurun dari 63,5% pada tahun 2003 menjadi 55,3% pada tahun 2013 dan kemudian naik menjadi 62,05% pada tahun 2023.


Usaha Pertanian: 1. Jumlah Usaha Tanaman Pertanian (UTP) perorangan menurun dari 31,71 juta pada tahun 2013 menjadi 29,34 juta pada tahun 2023. Produksi Tanaman Pangan: 1. Terdapat peningkatan nyata dalam luas panen dan prouksi padi, menunjukkan tren positif dalam produksi padi domestik. 2. Produktivitas budidaya padi juga menunjukkan peningkatan. 3. Keanekaragaman tanaman pangan meningkat, menunjukkan upaya untuk meningkatkan ketahanan pertanian. Implikasi: 1. Meningkatnya jumlah rumah tangga yang terlibat dalam pertanian menyoroti pentingnya mendukung petani kecil dan memastikan akses mereka terhadap sumber daya dan pasar. 2. Penurunan jumlah UTP mungkin mencerminkan perubahan struktural dalam sektor pertanian, yang memerlukan analisis lebih lanjut dan intervensi terarah. 3. Tren positif dalam produksi dan produktivitas padi menggembirakan, tetapi upaya terus-menerus diperlukan untuk mencapai swasembada dan meningkatkan ketahanan pangan. 4. Perluasan keragaman tanaman pangan merupakan langkah positif untuk membangun sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sensus Pertanian:

1. Meningkatnya jumlah rumah tangga yang terlibat dalam pertanian menunjukkan peran penting sektor ini dalam mata pencaharian dan ekonomi pedesaan. 2. Dominasi petani kecil dan perluasan lahan sempit menyoroti kebutuhan untuk mendukung petani kecil dan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. 3. Tren positif dalam produksi dan produktivitas padi menunjukkan kemajuan dalam swasembada padi, tetapi upaya berkelanjutan diperlukan untuk mencapai ketahanan pangan yang lebih kuat. 4. Diversifikasi tanaman pangan merupakan langkah positif untuk meningkatkan ketahanan dan keberlanjutan pertanian.


Neraca Dagang Pertanian: 1. Defisit perdagangan pertanian yang konsisten menunjukkan ketergantungan Indonesia pada impor, yang berpotensi mempengaruhi ketahanan pangan dan stabilitas harga. 2. Peningkatan ekspor dan impor mencerminkan pertumbuhan sektor pertanian dan partisipasi Indonesia dalam perdagangan global. 3. Pergeseran komoditas ekspor dan impor menunjukkan peningkatan nilai tambah dan memenuhi kebutuhan domestik yang berubah. Implikasi: Ketahanan Pangan: * Dukungan untuk petani kecil, peningkatan produktivitas, dan diversifikasi tanaman pangan sangat penting untuk mencapai ketahanan pangan dan kemandirian. dan Pengelolaan impor yang hati-hati dan pengembangan rantai pasokan domestik yang kuat diperlukan untuk memastikan stabilitas harga dan akses pangan yang terjangkau. Pembangunan Pertanian: * Investasi dalam penelitian, pengembangan, dan infrastruktur penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing pertanian. Kebijakan yang mendukung pertanian berkelanjutan, konservasi sumber daya alam, dan adaptasi perubahan iklim sangat penting untuk keberlanjutan jangka panjang. Perdagangan Global: * Peningkatan nilai tambah, diversifikasi produk, dan penguatan promosi perdagangan dapat meningkatkan ekspor pertanian dan pendapatan devisa. Negosiasi perdagangan internasional yang strategis dan partisipasi aktif dalam rantai nilai global dapat memperluas akses pasar dan peluang bagi produk pertanian Indonesia.


Ekspor: Tabel menunjukkan total nilai ekspor pangan pokok untuk setiap tahun, mulai dari 48.805 di tahun 2002 hingga 54.475.384.430 di tahun 2023. Tabel ini juga memerinci nilai ekspor berdasarkan kelompok komoditas tertentu, termasuk: Padi: Padi merupakan ekspor pangan pokok terpenting bagi Indonesia, dengan porsi signifikan dari total nilai ekspor. Jagung: Jagung adalah tanaman ekspor penting lainnya, terutama digunakan sebagai pakan ternak. Kedelai: Kedelai diekspor untuk kandungan minyak dan proteinnya. Pangan Pokok Lainnya: Kategori ini mencakup berbagai pangan pokok lainnya, seperti singkong, ubi jalar, dan buah-buahan.


Impor: Tabel menunjukkan total nilai impor pangan pokok untuk setiap tahun, mulai dari 890.199.986.322 di tahun 2002 hingga 12.659.361.257.215 di tahun 2023. Tabel ini juga memerinci nilai impor berdasarkan kelompok komoditas tertentu, termasuk: * Padi: Indonesia mengimpor padi untuk melengkapi produksi dalam negeri dan memenuhi permintaan yang meningkat terhadap makanan pokok ini. Gandum: Gandum diimpor untuk produksi roti dan produk berbahan tepung terigu lainnya. Kedelai: Kedelai diimpor untuk kandungan minyak dan proteinnya, terutama digunakan dalam produksi pakan ternak. Pangan Pokok Lainnya: Kategori ini mencakup berbagai pangan pokok lainnya, seperti jagung, gula, dan minyak.


Pengamatan: Pembangunan Food Estate di Indonesia berjalan lambat sejak tahun 2020. Total luas lahan yang dialokasikan untuk proyek Food Estate meningkat dari waktu ke waktu, tetapi luas tanam masih tertinggal. Produksi dari Food Estate juga masih terbatas, mencerminkan tantangan dalam pengembangan dan pengelolaan proyek pertanian skala besar ini. Implikasi: Program Food Estate berpotensi meningkatkan produksi pertanian Indonesia dan berkontribusi pada ketahanan pangan. Akan tetapi, lambatnya kemajuan pembangunan Food Estate dan produksi yang masih terbatas menimbulkan kekhawatiran tentang kelayakan program ini. Evaluasi yang cermat terhadap tantangan dan peluang terkait Food Estate diperlukan untuk menentukan keberhasilan jangka panjang mereka.


Pertimbangan Tambahan: Data yang disajikan dalam gambar ini memberikan gambaran sekilas tentang pembangunan Food Estate di Indonesia. Namun, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain, seperti dampak lingkungan, implikasi sosial, dan kelayakan ekonomi, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang potensi dan tantangan program ini. Efektivitas pengembangan Food Estate akan tergantung pada penanganan faktor-faktor seperti masalah kepemilikan tanah, pembangunan infrastruktur, akses pembiayaan, dan adopsi praktik pertanian berkelanjutan. Pemantauan dan evaluasi proyek Food Estate secara berkelanjutan sangat penting untuk mengidentifikasi praktik terbaik, mengatasi tantangan, dan memastikan program ini mencapai tujuan yang diinginkan.


Kesimpulan: Program Food Estate di Indonesia berpotensi berkontribusi pada ketahanan pangan dan pembangunan pertanian nasional. Namun, lambatnya kemajuan dan terbatasnya produksi sejauh ini menyoroti perlunya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang cermat untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program. Dengan mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang dihadirkan oleh Food Estate, Indonesia dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan berkontribusi pada sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

  • bincang_gambut_kalimantan_barat_seri_11_peran_lahan_dalam_ketahanan_pangan.1714215103.txt.gz
  • Last modified: 2024/04/27 10:51
  • by Rabbirl Yarham Mahardika