Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

Both sides previous revision Previous revision
Next revision
Previous revision
ekosistem:bahaya_gambut_yang_teroksidasi_dan_penanggulangannya [2023/06/24 07:17] Eka Sulis Setiawatiekosistem:bahaya_gambut_yang_teroksidasi_dan_penanggulangannya [2024/06/04 02:50] (current) Rabbirl Yarham Mahardika
Line 1: Line 1:
-===== Bahaya Gambut yang Teroksidasi dan Penaggulangannya ===== +===== Oksidasi Gambut =====
- <font 11pt/Calibri,sans-serif;;inherit;;inherit>Gambut merupakan salah satu penghasil karbon terbesar didunia. Lapisan gambut ini mengandung banyak bahan organic dengan tingkat persentase sebesar > 75%, bahan organic ini berasal dari sersah-sersah, ranting pohon, dan akar-akar tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna. Lapisan gambut yang letaknya paling dalam menyimpan sejumlah besar karbon organic, yang mana apabila karbon organic tersebut mengalami oksidasi dapat terbang ke atmosfer dan membentuk gas rumah kaca. Gas rumah kaca sendiri merupakan hal yang dapat mengancam keberlangsungan makhluk hidup, dampak yang disebabkan salah satunya meningkatnya suhu pada permukaan bumi. Suhu permukaan bumi yang meningkat tentunya akan sangat berdampak pada kehidupan dan kesehatan manusia dan makhluk hidup didalamnya. Oleh karena itu perlu dilakukannya penanggulangan atau pemanfaat lahan gambut, agar efek dari teroksidasinya karbon organic dapat dikurangi. Penanggulangan ini dapat berupa pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan bagi tanaman pangan, perkebunan, hutan taman industry, perikanan, permungkiman dan lain-lain.</font>+
  
-{{https://wikigambut.id/lib/plugins/ckgedit/fckeditor/userfiles/image/ekosistem/oksidasigambut.jpg?nolink&1200x675}}+{{  https://wikigambut.id/lib/plugins/ckgedit/fckeditor/userfiles/image/ekosistem/oksidasigambut_1.jpg?nolink&400x225|oksidasigambut_1.jpg}} <font 11pt/Calibri,sans-serif;;inherit;;inherit>Gambut merupakan salah satu penghasil karbon terbesar didunia. Menurut Yuliana (2022), lapisan gambut mengandung banyak bahan organik dengan tingkat persentase sebesar > 75%, bahan organik ini berasal dari sersah-sersah, ranting pohon, dan akar-akar tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna.</font> 
 + <font 11pt/Calibri,sans-serif;;inherit;;inherit></font>
  
 ---- ----
  
-**Tinjauan Pustaka**+==== Oksidasi/Dekomposisi Gambut ==== 
 + <font 11pt/Calibri,sans-serif;;inherit;;inherit>Pengelolaan lahan gambut memiliki dampak yang signifikan terhadap keseimbangan karbon dalam ekosistem tersebut. Salah satu faktor utama yang memengaruhi keseimbangan karbon adalah oksidasi gambut, yang terjadi ketika terjadi penurunan muka air tanah, mempercepat proses dekomposisi aerobik karena adanya oksigen di lapisan gambut (Berglund et al., 2011). Proses dekomposisi gambut bersama respirasi akar tanaman berkontribusi terhadap emisi karbon, dengan respirasi akar menyumbang sekitar 27-63% dari emisi CO<sub>2</sub> (Berglund et al., 2011).</font>
  
-Pengertian Efek Rumah KacaPenyebab dan Proses Terjadinya[[https://www.tokopedia.com/blog/pengertian-penyebab-proses-terjadinya-efek-rumah-kaca-edu/?utm_source=google&utm_medium=organic|https://www.tokopedia.com/blog/pengertian-penyebab-proses-terjadinya-efek-rumah-kaca-edu/?utm_source=google&utm_medium=organic]]+---- 
 + <font 11pt/Calibri,sans-serif;;inherit;;inherit>Selain itu, aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian, terutama melalui pembuatan saluran drainase, dapat menyebabkan penurunan muka air tanah dan subsiden. Hal ini mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang pada akhirnya mempengaruhi cadangan karbonbaik melalui pembakaran maupun dekomposisi (Rieley et al., 2006). Upaya dalam memperlambat oksidasi pada tanah gambut dengan hati-hati dalam pembuatan saluran drainase merupakan pendekatan yang perlu dipertimbangkan (Woosten et al., 2006), karena intervensi manusia dapat mengubah struktur dan fungsi lahan gambut secara cepat, kecuali jika pengelolaan air dilakukan dengan tepat. Terlebih lagi, selain dari proses dekomposisi organik, emisi CO<sub>2 </sub>juga disebabkan oleh kebakaran lahan gambut, yang mengubah peran gambut dari penampung karbon menjadi sumber karbon ke atmosfer (Dariah et al., 2011)Ini menunjukkan bahwa lahan gambut tropis memiliki potensi emisi karbon yang signifikan dan sangat rentan terhadap perubahan iklim serta aktivitas manusia (Page et al., 2011).</font> 
 + 
 +---- 
 + 
 +==== Daftar Pustaka ==== 
 + 
 +Berglund Ö, Berglund K. 2011. Influence of Water Table Level and Soil Properties on Emissions of Greenhouse Gases from Cultivated Peat Soil. Soil Biology & Biochemistry. 43:923-931 
 + 
 +Dariah, A., Erni Susanti., F. Agus. 2011. Simanan Karbon dan Emisi CO2 Di Lahan Gambut. Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Balai Penelitian Tanah. p. 5672 
 + 
 +Page, S E., Siegert F, Rieley JO, Boehm HDV, Jaya A, Limin SH. 2002. The amount of carbon released from peat and forest fires in Indonesia during 1997. Nature. 420(202):61-65 
 + 
 +Rieley, J.O., A.A. Ahmad-shah & M.A. Brady. 1996. The extent and nature of tropical pat swamps. Dalam: E. Maltby, C.P. Immirzi & R.J. Safford (eds). Tropical Lowland Peatlands of Southeast Asia. Proceedings of a Workshop on Integrated Planning and Management of Tropical Lowland Peatlands. IUCN. Gland, Switzerland. Hal 17-53 
 + 
 +Wösten JHM, Clymans E, Page SE, Rieley JO, Limin SH. 2008. Peat–water Interrelationships in A Tropical Peatland Ecosystem in Southeast Asia. Catena. 73:212–224 
 + 
 +Yuliana, R. (2022). Manfaat dan Fungsi Lahan Gambut Bagi Kehidupan Masyarakat. //Prosiding Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (PISIP)//, //2// (1), 152-156.
  
  
  • ekosistem/bahaya_gambut_yang_teroksidasi_dan_penanggulangannya.1687591053.txt.gz
  • Last modified: 2023/06/24 07:17
  • by Eka Sulis Setiawati