Differences

This shows you the differences between two versions of the page.

Link to this comparison view

Both sides previous revision Previous revision
Next revision
Previous revision
ekosistem:potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan [2022/10/19 07:31] – ↷ Page moved from potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan to ekosistem:potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan Yusi Septriandiekosistem:potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan [2023/01/17 20:16] (current) – external edit 127.0.0.1
Line 1: Line 1:
-{{tag>ekosistem kebijakan penghidupan satwa tumbuhan}}+{{tag>rintisan}}
  
 ====== Potensi Sumber Daya Ekosistem Gambut Sumatera Selatan ====== ====== Potensi Sumber Daya Ekosistem Gambut Sumatera Selatan ======
Line 5: Line 5:
 ===== Potensi Sumber Daya Alam ===== ===== Potensi Sumber Daya Alam =====
  
-Hutan rawa gambut juga berperan sangat penting sebagai penyimpan dan penyerap karbon, penyimpan sumberdaya genetik (plasma nutfah), serta keanekaragaman hayati lainnya. Sumatera Selatan memiliki potensi sumber daya alam yang sangat banyak. Luasan yang masuk dalam Fungsi Lindung (Taman Nasional, Suaka Margasatwa dan hutan lindung) sebesar 276.245 ha sekitar 13.2% dari total luasan KHG yang ada di sumatera selatan, hal ini menunjukkan banyaknya kenaknekaragaman hayati yang ada dalam Ekosistem Gambut. Salah satunya berada pada taman nasional Sembilang terdapat beberapa jenis satwa yang ada di kawasan ini, antara lain jenis mamalia besar, yaitu Harimau Sumatera //(Panthera tigris sumatrae)//, Tapir asia //(Tapirus indicus)// dan [[satwa:beruang_madu?s[]=beruang&s[]=madu|Beruang madu (Helarctos malayanus)]], serta 27 jenis burung. Sedangkan flora ditemukan sebanyak 178 spesies dari 42 suku Selain itu juga pada SM Padang Sugihan terdapat beberapa jenis fauna yang teridentifikasi di SM Padang Sugihan, antara lain gajah sumatera //(Elephas maximus sumatranus)//, monyet ekor panjang //(Macaca fascicularis)//, lutung kelabu //(Trachypithecus cristatus)//, rusa sambar //(Rusa unicolor)//, beruang madu //(Helarctos malayanus)//, berang-berang //(Lutra sumatrana)//, napu //(Tragulus napu)//, dan babi hutan (Sus scrofa). Selain itu, juga teridentifikasi beberapa jenis burung, antara lain elang brontok //(Spizaetus cirrhatus)//, elang tikus //(Elanus caeruleus)//, bangau tong-tong //(Leptoptilos javanicus)//, kerak kerbau //(Acridotheres tristis)//, dan betet ekor panjang //(Psittacula longicauda)//. Sedang untuk jenis jenis flora yang dominan adalah //Mangifera sp, Uranda sp, Polyalthia sp, Litsea sp, Eugenia sp, Dillenia sp, Koompassia sp, Memecylon sp, Melanorrhoea spp, Xylopia sp, dan Shorea sp//. Jenis lain yang tumbuh adalah //Xanthophyllum// dan //Diospyros// sp. Vegetasi ini juga diperkaya dengan tumbuhan perdu antara lain pales //(Licuala)// dan rasau //(Pandanus sp//) serta berbagai jenis pakis-pakisan yaitu: pakis udang //(Sterna china palustris)//, pakis gajah (Aceratium sp) dan pakis rancang //(Pteridium aquilinum)//. Pada kawasan dengan tipe vegetasi ini ditemukan anggrek raksasa //Grammatophyllum speciosum// yang termasuk jenis anggrek langka. Kemudian untuk kawasan yang memiliki status sebagai fungsi budidaya sekitar 1.8 juta hektar, hal ini menunjukkan begitu banyak potensi perkebunan dan pertanian yang ada dalam ekosistem gambut yang ada di Sumatera Selatan. Terlebih mayoritas masyarakat yang hidup dalam Kawasan ekosistem gambut berprofesi sebagai petani, dan juga ada izin konsesi yang ada dalam Kawasan ekosistem gambut. Potensi yang dimiliki seperti akasia, sawit, karet, kelapa, padi, jagung, dan juga berbagai macam jenis perkebunan serta pertanian lainnya. Serta potensi tambak ataupun sungai juga cukup besar seperti udang dan bandeng yang sudah cukup banyak masyarakat melakukan budidayanya.+Hutan rawa gambut juga berperan sangat penting sebagai penyimpan dan penyerap karbon, penyimpan sumberdaya genetik (plasma nutfah), serta keanekaragaman hayati lainnya. Sumatera Selatan memiliki potensi sumber daya alam yang sangat banyak. Luasan yang masuk dalam Fungsi Lindung (Taman Nasional, Suaka Margasatwa dan hutan lindung) sebesar 276.245 ha sekitar 13.2% dari total luasan KHG yang ada di sumatera selatan, hal ini menunjukkan banyaknya kenaknekaragaman hayati yang ada dalam Ekosistem Gambut. Salah satunya berada pada taman nasional Sembilang terdapat beberapa jenis satwa yang ada di kawasan ini, antara lain jenis mamalia besar, yaitu Harimau Sumatera //(Panthera tigris sumatrae)//, Tapir asia //(Tapirus indicus)// dan [[:satwa:beruang_madu?s[]=beruang&s[]=madu|Beruang madu (Helarctos malayanus)]], serta 27 jenis burung. Sedangkan flora ditemukan sebanyak 178 spesies dari 42 suku Selain itu juga pada SM Padang Sugihan terdapat beberapa jenis fauna yang teridentifikasi di SM Padang Sugihan, antara lain gajah sumatera //(Elephas maximus sumatranus)//, monyet ekor panjang //(Macaca fascicularis)//, lutung kelabu //(Trachypithecus cristatus)//, rusa sambar //(Rusa unicolor)//, beruang madu //(Helarctos malayanus)//, berang-berang //(Lutra sumatrana)//, napu //(Tragulus napu)//, dan babi hutan (Sus scrofa). Selain itu, juga teridentifikasi beberapa jenis burung, antara lain elang brontok //(Spizaetus cirrhatus)//, elang tikus //(Elanus caeruleus)//, bangau tong-tong //(Leptoptilos javanicus)//, kerak kerbau //(Acridotheres tristis)//, dan betet ekor panjang //(Psittacula longicauda)//. Sedang untuk jenis jenis flora yang dominan adalah //Mangifera sp, Uranda sp, Polyalthia sp, Litsea sp, Eugenia sp, Dillenia sp, Koompassia sp, Memecylon sp, Melanorrhoea spp, Xylopia sp, dan Shorea sp//. Jenis lain yang tumbuh adalah //Xanthophyllum// dan //Diospyros// sp. Vegetasi ini juga diperkaya dengan tumbuhan perdu antara lain pales //(Licuala)// dan rasau //(Pandanus sp//) serta berbagai jenis pakis-pakisan yaitu: pakis udang //(Sterna china palustris)//, pakis gajah (Aceratium sp) dan pakis rancang //(Pteridium aquilinum)//. Pada kawasan dengan tipe vegetasi ini ditemukan anggrek raksasa //Grammatophyllum speciosum// yang termasuk jenis anggrek langka. Kemudian untuk kawasan yang memiliki status sebagai fungsi budidaya sekitar 1.8 juta hektar, hal ini menunjukkan begitu banyak potensi perkebunan dan pertanian yang ada dalam ekosistem gambut yang ada di Sumatera Selatan. Terlebih mayoritas masyarakat yang hidup dalam Kawasan ekosistem gambut berprofesi sebagai petani, dan juga ada izin konsesi yang ada dalam Kawasan ekosistem gambut. Potensi yang dimiliki seperti akasia, sawit, karet, kelapa, padi, jagung, dan juga berbagai macam jenis perkebunan serta pertanian lainnya. Serta potensi tambak ataupun sungai juga cukup besar seperti udang dan bandeng yang sudah cukup banyak masyarakat melakukan budidayanya.
 ===== Potensi Jasa Lingkungan ===== ===== Potensi Jasa Lingkungan =====
  
Line 11: Line 11:
  
 Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3.805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya. Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3.805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya.
 +
 +===== Hutan Mangrove dan Ekonomi Hijau =====
 +
 +Hutan mangrove merupakan salah satu hutan paling produktif di dunia dan sangat bermanfaat baik dalam fungsi fisik, ekonomi, maupun ekologi. Berdasarkan peta mangrove nasional 2021 yang baru diluncurkan pada 13 oktober 2021, luas lahan mangrove di Indonesia saat ini adalah 3.364.080 Ha atau 20% dari total bakau yang ada di dunia.Luasan tersebut bertambah 52.873 Ha bila dibandingkan periode 2013-2019. Luasan berpotensi ekosistem mangrove seperti wilayah abrasi dan yang sudah terbuka tutupannya berada di kisaran 700.575 Ha. Di wilayah Sumatera Selatan luas hutan mangrove saat ini mencapai 345.990 Ha. Adapun paling luas berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Dinas Kehutanan Sumatera Selatan mencatat 62,5 Ha hutan mangrove di Sumatera Selatan mengalami status sangat kritis. Padahal hutan mangrove berfungsi sebagai penyedia sumber nutrisi dan menjaga bentang daerah kawasan pesisir. Kerusakan hutan mangrove juga mengakibatkan hasil tangkapan laut di wilayah Sumatera Selatan mengalami penurunan.
 +
 +Konsep Green Economy merupakan salah satu konsep baru dalam menciptakan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan melalui upaya-upaya yang berkonsepkan Green demi terwujudnya keseimbangan lingkungan. Salah satu penerapan konsep Green Economy adalah dalam bidang konservasi lingkungan yakni dalam pengelolaan mangrove. Konsep penerapan Green Economy dalam upaya penegelolaan mangrove sesungguhnya memiliki tujuan meningkatkan dan menjaga keanekaragaman hayati agar keberadaan atau kelestariannya tetap terjaga serta pemanfaatannya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Konsep Green Economy ini dapat diwujudkan dengan adanya peran pemerintah dan masyarakat dalam melakukan konservasi terhadap hutan mangrove. Salah satu langkah dari Green Economy untuk menjaga keanekaragaman dan keseimbangan hayati adalah penanaman kembali. Kecamatan Tulung Selapan,Kabupaten Ogan Komering Ilir berhasil melakukan rehabilitas di lahan mangrove seluas 67 Ha.
  
  
  • ekosistem/potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan.1666164702.txt.gz
  • Last modified: 2023/01/17 22:52
  • (external edit)