Differences
This shows you the differences between two versions of the page.
Both sides previous revision Previous revision Next revision | Previous revision | ||
ekosistem:potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan [2022/12/03 04:56] – Talitha Nur Amalia | ekosistem:potensi_sumber_daya_ekosistem_gambut_sumatera_selatan [2023/01/17 20:16] (current) – external edit 127.0.0.1 | ||
---|---|---|---|
Line 12: | Line 12: | ||
Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3.805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya. | Sumatera Selatan memiliki beberapa gunung dengan keanekaragaman hayati yang tinggi seperti Gunung Kerinci (3.805 mdpl, puncak di luar Sumatera Selatan), Gunung Dempo (3.159 mdpl), Gunung Bungkuk (2.125 mdpl), Gunung Seminung (1.964 mdpl) dan Gunung Patah (1.107 mdpl). Pegunungan di Sumatera Selatan menjadi salah satu penggerak ekonomi, sumber daya alam (air, udara, keindahan alam), keanekaragaman vegetasi, habitat satwa liar dan kearifan lokal masyarakat. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tantangan pembangunan di depan mengancam keberadaan keanekaragaman hayati, bisa saja alihguna hutan pegunungan menjadi penggunaan lahan lain yang cukup intensif di daerah sekitar hutan pegunungan menyebabkan pergerakan benih (plasna nutfah) maupun satwa terkendala. Apabila kondisi ini berlanjut maka dalam kurun waktu yang panjang akan terjadi gangguan suksesi ekologis, yang berdampak pada kepunahan lokal beberapa spesies flora dan fauna yang sudah cenderung langka dan memerlukan area habitat minimum yang cukup luas. Salah satu hal yang dapat membantu dalam menjawab tantangan alih fungsi adalah dengan membuat perencanaan pembangunan hijau, Sumatera Selatan sudah memiliki Peraturan Gubernur perencanaan pembangunan hijau (GGP) pada tahun 2017. Dokumen GGP Sumatera Selatan (2017) menyebutkan bahwa rencana induk pertumbuhan ekonomi hijau dapat berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman hayati di tingkat lanskap dengan mempertahankan keterhubungan antara hutan lahan kering dan mangrove dengan area lanskap sekitarnya. | ||
- | Hutan Mangrove dan Ekonomi Hijau | + | ===== Hutan Mangrove dan Ekonomi Hijau ===== |
Hutan mangrove merupakan salah satu hutan paling produktif di dunia dan sangat bermanfaat baik dalam fungsi fisik, ekonomi, maupun ekologi. Berdasarkan peta mangrove nasional 2021 yang baru diluncurkan pada 13 oktober 2021, luas lahan mangrove di Indonesia saat ini adalah 3.364.080 Ha atau 20% dari total bakau yang ada di dunia.Luasan tersebut bertambah 52.873 Ha bila dibandingkan periode 2013-2019. Luasan berpotensi ekosistem mangrove seperti wilayah abrasi dan yang sudah terbuka tutupannya berada di kisaran 700.575 Ha. Di wilayah Sumatera Selatan luas hutan mangrove saat ini mencapai 345.990 Ha. Adapun paling luas berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Dinas Kehutanan Sumatera Selatan mencatat 62,5 Ha hutan mangrove di Sumatera Selatan mengalami status sangat kritis. Padahal hutan mangrove berfungsi sebagai penyedia sumber nutrisi dan menjaga bentang daerah kawasan pesisir. Kerusakan hutan mangrove juga mengakibatkan hasil tangkapan laut di wilayah Sumatera Selatan mengalami penurunan. | Hutan mangrove merupakan salah satu hutan paling produktif di dunia dan sangat bermanfaat baik dalam fungsi fisik, ekonomi, maupun ekologi. Berdasarkan peta mangrove nasional 2021 yang baru diluncurkan pada 13 oktober 2021, luas lahan mangrove di Indonesia saat ini adalah 3.364.080 Ha atau 20% dari total bakau yang ada di dunia.Luasan tersebut bertambah 52.873 Ha bila dibandingkan periode 2013-2019. Luasan berpotensi ekosistem mangrove seperti wilayah abrasi dan yang sudah terbuka tutupannya berada di kisaran 700.575 Ha. Di wilayah Sumatera Selatan luas hutan mangrove saat ini mencapai 345.990 Ha. Adapun paling luas berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin. Dinas Kehutanan Sumatera Selatan mencatat 62,5 Ha hutan mangrove di Sumatera Selatan mengalami status sangat kritis. Padahal hutan mangrove berfungsi sebagai penyedia sumber nutrisi dan menjaga bentang daerah kawasan pesisir. Kerusakan hutan mangrove juga mengakibatkan hasil tangkapan laut di wilayah Sumatera Selatan mengalami penurunan. |