ekosistem:kerusakan_gambut

This is an old revision of the document!


Kerusakan Gambut

Kerusakan yang luas karena terjadinya perubahan hidrologi hutan rawa gambut akibat pembangunan drainase yang sangat masif sehingga lahan gambut menjadi sangat rentan terhadap kebakaran, yang disebabkan oleh alam dan perbuatan manusia. Kerusakan yang terjadi berakibat pada hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi tanah, meningkatnya ketidakseimbangan hidrologi dan pada akhirnya akan berdampak pada berkurangnya air yang tersedia di kawasan tersebut, perubahan siklus karbon dan pemanasan global. Mempelajari karakteristik gambut yang telah terganggu akan menjadi dasar untuk mengelola gambut agar dapat dipulihkan, dan salah satu yang utama adalah mempelajari keanekaragaman vegetasinya. Memahami keanekaragaman dapat dilakukan melalui pengklasifikasian vegetasi dan hal tersebut merupakan indikator yang kuat untuk mencerminkan kondisi lingkungan. Kerusakan semua bentuk ekosistem termasuk ekosistem hutan gambut akan membentuk gradasi pada ekosistem tersebut. Pemulihan ekosistem akan mengikuti gradasi yang terjadi sehingga mencapai pada ekosistem klimaks. Untuk dapat merumuskan proses perbaikan ekosistem yang telah rusak ini diperlukan data dan informasi mengenai kondisi ekosistem hutan tersebut atau bagaimana gambaran karakteristik ekosistem hutan yang telah rusak tadi. Karakteristik tersebut dapat dilihat dari indikator-indikator yang terdiri dari keanekaragaman jenis (diversity), struktur komunitas, dan dominansi jenis. Karakteristik yang terbentuk tersebut dalam perkembangannya akan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan ekosistem hutan, baik kondisi iklim mikro maupun kondisi tanahnya.

Sangat disayangkan gambut di Indonesia banyak mengalami kerusakan, kerusakan yang terjadi pada ekosistem gambut diakibatkan karena Anggapan bahwa gambut merupakan lahan tidak berguna merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan dan lahan gambut. Karena dianggap tidak berguna, lahan gambut sering dialihfungsikan baik menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, dan lainnya. Namun, lahan gambut yang akan digunakan harus dikeringkan terlebih dahulu dengan membuat kanal atau saluran air sehingga membuat lahan gambut terdegradasi. Lahan gambut yang dikeringkan dan dialihfungsikan menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut. Hal ini berakibat pada kehidupan ekosistem gambut lainnya.

Referensi :

Hooijer, Aljosja, et al. “Current and future CO 2 emissions from drained peatlands in Southeast Asia.” Biogeosciences 7.5 (2010): 1505-1514.

Kimmins, J. P. Forest ecology: a foundation for sustainable management. No. Ed. 2. 1997.

Ordonez, Jenny C., et al. “Constraints and opportunities for tree diversity management along the forest transition curve to achieve multifunctional agriculture.” Current Opinion in Environmental Sustainability 6 (2014): 54-60.

Shimamura, Tetsuya, Kuniyasu Momose, and Shigeo Kobayashi. “A comparison of sites suitable for the seedling establishment of two co-occurring species, Swintonia glauca and Stemonurus scorpioides, in a tropical peat swamp forest.” Ecological Research 21 (2006): 759-767.

Wösten, J. H. M., et al. “Peat–water interrelationships in a tropical peatland ecosystem in Southeast Asia.” Catena 73.2 (2008): 212-224.

  • ekosistem/kerusakan_gambut.1717210289.txt.gz
  • Last modified: 2024/06/01 02:51
  • by Ewis Arni