kebijakan:revegetasi

Revegetasi

Revegetasi merupakan suatu upaya pemulihan tutupan lahan pada ekosistem gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigEkosistem Gambut

Pemerintah Indonesia mendefinisikan ekosistem gambut sebagai tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya. Definisi ini kemudian diperkuat dengan penegasan batasan dan cakupan ekosistem
melalui penanaman jenis tanaman asli pada fungsi lindung atau dengan jenis tanaman lain yang adaptif terhadap lahan basah dan memiliki nilai ekonomi pada fungsi budidaya. I stilah yang dipilih dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) pada wilayah bergambut, dilakukan melalui kegiatan penanaman vegetasi pada areal gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
yang mengalami kerusakan. Dalam program restorasi gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
“revegetasi” ini digabungkan dengan 2 R lainnya yaitu “rewetting” dan “revitalisasi” sebagai upaya percepatan pemulihan fungsi ekosistem gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigEkosistem Gambut

Pemerintah Indonesia mendefinisikan ekosistem gambut sebagai tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya. Definisi ini kemudian diperkuat dengan penegasan batasan dan cakupan ekosistem
. Kegiatan revegetasi atau RHL pada kawasan bergambut bertujuan untuk membangun sumber daya yang kritis sehingga berfungsi optimal dalam memberikan manfaat ekologi, ekonomi dan sosial seluruh pihak yang berkepentingan, mengelola sumberdaya dan mengembangkan kelembagaan yang berdasarkan sumberdaya kawasan bergambut. Pada prinsipnya kegiatan revegetasi harus dilakukan dengan cara dan prosedur yang tepat. Pertama, prioritas RHL - GI berupa kawasan gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
lindung dan budidaya sangat kritis dan / atau kritis yang terletak dalam DAS prioritas dengan kondisi gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
matang / safrik dan ketebalan gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
dangkal setelah dikurangi peruntukan lain seperti pemukiman dan sarana umum lainnya.

Kedua, p rioritas RHL - G II berupa kawasan gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
sangat kritis dan kritis yang terletak dalam DAS prioritas dengan kondisi gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
setengah matang / hemik dan ketebalan tanah gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
dangkal setelah dikurangi perutukan lain seperti pemukiman dan sarana umum lainnya. Jika dilihat dari kondisi kerapatannya maka RHL pada kawasan bergambut dapat dicapai melalui 2 (dua) cara penanaman intensif dan pengkayaan tanaman. Penanaman intensif dilakukan pada kawasan bergambut prioritas RHL-G I dan prioritas RHL-G II dengan jumlah tegakan awal paling banyak 200 batang / ha.Sedangkan penanaman intensif dilakukan pada kawasan bergambut yang memiliki tegakan asal 200 - 400 batang / ha. Di Provinsi Sumatera Selatanplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigSumatera Selatan

Sumatera Selatan atau sering disebut sebagai Bumi Sriwijaya, memiliki Ibu Kota Provinsi Palembang yang juga dijuluki sebagai Venice of The East (Venesia dari timur) oleh bangsa Eropa merupakan salah satu kota tertua di Indonesia yang sudah ada sejak 1.335 tahun yang lalu. Dalam perjalanannya, Provinsi Sumatera Selatan saat ini tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur, terutama melalui perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus Pelabuhan Tanjung Api-Api di
, terdapat beberapa perusahaan pemegang Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) memiliki kewajiban melakukan penanaman rehabilitasi DAS pada kawasan bergambut, yaitu pada Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kebun Raya Sriwijaya seluas 73,6 Ha, termasuk (1) ) Conocophillips (Grissik) Ltd seluas 35 Ha; (2) PT. Aset Medco E&P Rimau seluas 12 Ha; (3) Pertamina Talisman Jambi Merang seluas 18,6 Ha; dan (4) PT. Seleraya Merangin Dua seluas 8 Ha. Jenis vegetasi yang dipilih merupakan vegetasi dominan pada areal tersebut yang memiliki toleransi terhadap genangan dan cahaya, seperti Jelutung Rawa (Dyera lowii), Pulai (Alstonia spp), Ramin (Gonystilus bancanus), Belangeran (Shorea belangeran), Prupuk (Lopo pethalum javanicum) , Meranti Rawa (Shorea pauciflora), Tembesu (Fagraea fragans), Medang Kilir (Litsea spp), Punak (Tetramerista glabra), Beriang (Polanum alternifolium), Perapak (Combretocarpus rotundatus) dan Kayu Labu (Endospermum spp).

  • kebijakan/revegetasi.txt
  • Last modified: 2023/01/17 20:16
  • by 127.0.0.1