sosialekonomi:paludikultur

This is an old revision of the document!


Paludikultur

Paludikultur berasal dari Bahasa Latin 'Palus' yang berarti Rawa dan 'culture' yang artinya Budidaya. Paludikultur adalah budidaya tanpa pengeringan (drainase) di lahan gambut yang basah atau lahan gambut yang telah dilakukan pembasahan serta melakukan penanaman spesies asli gambut. Paludikultur merupakan teknik penggunaan lahan gambut secara produktif dengan tetap mempertahankan peran dan fungsi dari ekosistem gambut tersebut.

Paludikultur merupakan teknik penggunaan lahan gambut secara produktif. Pengembangan paludikultur meliputi penanaman tanaman budidaya, termasuk juga didalamnya budidaya ikan, ternak di hutan dan lahan gambut (silvo-fishery dan silvo-pasture), serta ekoturisme berbasis lahan gambut sepanjang peran dan fungsi ekosistem gambutnya tidak terganggu (Tata dan Susmianto, 2016). Secara prinsip paludikultur merupakan teknik adaptasi jenis-jenis tanaman (terutama jenis-jenis lokal) dengan kondisi biofisik alami ekosistem gambut.

Paludikultur atau budi daya di lahan rawa dan rawa gambut tergenang semakin dikenal sebagai alternatif teknik rehabilitasi lahan gambut terdegradasi, sejak adanya masalah lingkungan akibat pembangunan kanal besar-besaran terutama di proyek lahan gambut (PLG) sejuta hektar. PLG ini pada awalnya dibangun dengan membuat drainase dalam rangka menyiapkan lahan pertanian sejuta hektar dari lahan gambut guna mengatasi kekurangan pangan (Noor, 2010).


paludikultur.jpg

Gambar 1. Paludikultur Lahan Gambut

Budi daya di lahan rawa dan gambut tipis secara tradisional dalam skala kecil di Indonesia, khususnya oleh masyarakat tradisional di Kalimantan (pada umumnya suku Dayak) telah berlangsung sejak jaman dahulu (Najiyati et al., 2005; Osaki et al., 2016). Di Kalimantan, budi daya di lahan rawa dan rawa gambut tipis dilakukan dengan melakukan pengelolaan air, yaitu dengan membangun saluran air, yang disebut dengan sistem handil (Sandrawati, 2004).

Hasil Penelitian Yuwati et al. (2018) menunjukkan beberapa jenis komoditas unggulan asli dari lahan gambut yang berpotensi untuk terus dibudidayakan dan dikembangkan, di antaranya adalah purun, galam, rumbia, belangeran dan gerunggang.

1. Purun

Purun termasuk sejenis rumput teki-tekian (famili Cyperaceae). Purun memiliki batang lurus berongga dan tidak berdaun. Purun dapat ditemukan di daerah terbuka di lahan rawa yang tergenang air, pada ketinggian 0-1350 m dpl. Tumbuhan ini tahan dengan kondisi lahan yang masam, sehingga banyak ditemukan di lahan gambut. Terdapat beberapa jenis purun, antara lain : purun tikus (Eleocharis dulcis), purun danau (Lepironia articulata Retz.) dan purun bajang.

210628160921-855.jpg

Gambar 2. Purun Tikus (https://tabloidsinartani.com/)

Masyarakat di lahan gambut Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan telah menggunakan purun sebagai bahan baku untuk kerajinan tangan. Produk yang dihasilkan antara lain: tikar, topi, keranjang, tas, bakul, dan lain-lain. Dibandingkan purun tikus, purun danau paling banyak digunakan sebagai bahan baku anyaman karena lebih kuat dan tidak mudah putus. Beberapa daerah penghasil ayaman purun adalah Desa Sungai Kali, Kec. Barambai, Kab. Barito Kuala; Kec. Anjir Serapat, Kab. Kapuas, dan Kampung Purun, Kota Banjarbaru.

2. Galam (Melaleuca cajuputi)

Galam merupakan jenis tumbuhan berkayu berbentuk pohon yang tumbuh sangat subur di lahan rawa gambut masam dan merupakan salah satu tumbuhan indikator tanah berpirit atau tanah sulfat masam. Tanaman ini sangat adaptif dengan kondisi masam ber-pH 3-4 bahkan dikenal sangat dominan di lahan rawa. Tegakan galam yang tumbuh di suatu lahan seolah-olah “membunuh” jenis tanaman berkayu lainnya sehingga terlihat dominan di lingkungannya. Menurut masyarakat di Desa Dadahup, Kab. Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah pertumbuhan galam terlihat lebih baik dan bagus ketika ditanam di lahan berair bila dibandingkan dengan tegakan galam yang ditanam area gundukan/pematang, khususnya pada kecepatan tumbuh dan ukuran diameter.

gelam.jpg

Gambar 3. Gelam di Lahan Gambut (bpsilhk-kuok.org)

  • sosialekonomi/paludikultur.1681465691.txt.gz
  • Last modified: 2023/04/14 09:48
  • by Rabbirl Yarham Mahardika