tumbuhan:purun

Purun

Purun merupakan tumbuhan yang termasuk kedalam family teki-tekian (Cyperaceae) yang tumbuh alami di alam. Tumbuhan ini, dapat dijumpai di daerah rawa atau lahan basah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Secara ekologis, tanaman purun mampu tumbuh dengan baik pada jenis tanah lempung dengan pH 6.9-7.4, namun dapat juga tumbuh dan beradaptasi pada jenis tanah sufat masam dengan pH rendah. Tanaman purun juga, pada ketinggian 0-1350 mdpl dengan suhu 30-35o C dan kelembaban 98-100%. Hal ini juga menunjukkan tanaman purun mampu tumbuh baik di ekosistem gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigEkosistem Gambut

Pemerintah Indonesia mendefinisikan ekosistem gambut sebagai tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya. Definisi ini kemudian diperkuat dengan penegasan batasan dan cakupan ekosistem
yang jenuh air dan pH rendah.

Karakter morfologi tumbuhan purun, mempunyai rimpang pendek dengan stolon memanjang berujung bulat gepeng, berwarna kecoklatansampai hitam. Batang tegak, tidak bercabang, berwarna keabuan hingga hijau mengilap dengan panjang 50-200 cm dan tebal 2-8 mm. Daun mereduksi menjadi pelepah yang berbentuk buluh seperti membran yang menyelubungi pangkal batang, kadang-kadang dengan helaian daun rudimeter, ujung daun tidak simetris, berwarna coklat kemerahan sampai lembayung, tanpa lidah daun. Bunganya bulir majemuk, terletak pada ujung batang dengan panjang 2-6 cm dan lebar 3-6 mm, terdiri atas banyak buliran berbentuk silinder bersifat hermafrodit. Buah berbentuk bulat telur sungsang, berwarna kuning mengilap sampai coklat. Terdapat 3 Jenis purun yang berada di Sumatera Selatanplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigSumatera Selatan

Sumatera Selatan atau sering disebut sebagai Bumi Sriwijaya, memiliki Ibu Kota Provinsi Palembang yang juga dijuluki sebagai Venice of The East (Venesia dari timur) oleh bangsa Eropa merupakan salah satu kota tertua di Indonesia yang sudah ada sejak 1.335 tahun yang lalu. Dalam perjalanannya, Provinsi Sumatera Selatan saat ini tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur, terutama melalui perencanaan Kawasan Ekonomi Khusus Pelabuhan Tanjung Api-Api di
yaitu purun tikus (Eleocharis dulcis), purun danau (Lepironia articulata Retz.) dan purun bajang,

Keberadaan tanaman purun memiliki 2 fungsi utama yaitu fungsi ekologis dan fungsi ekonomis. Secara ekologis tanaman purun memiliki beberapa fungsi seperti perangkap alami hama penggerek batang padi (Scirpophaga innotata), pupuk organik, biofilter alami dan penyerap unsur beracun seperti merkuri. Selanjutnya, fungsi ekonomi tanaman purun yaitu, tanaman purun menjadi sumber penghidupan masyarakat lokal yang dijadikan sebagai bahan baku anyaman topi, tas (bakul, kampil, anjat), alas kaki, alas piring makan dan sejenisnya. Tanaman purun juga dapat berpotensi dalam pengurangan polusi limbah plastik dengan diperkenalkannya Purun Eco Straw di forum High-Level Thematic Debate on Tourism Sidang Umum PBB oleh Menparekraf RI Sandiaga Uno.

puruncifot.jpg

www.cifor.org

Pedamaran merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan tanaman purun, tanaman purun dimanfaatkan untuk membuat kerajianan, seperti tikar purun, sejadah purun, topi purun dan tas purun. selain itu desa pedamaran dinobatkan sebagai desa tikar karena mayoritas masyarakatnya membuat tikar dari purun. pembuatan kerajinan purun dilakukan dengan sederhana dan secara manual.

Adapun pengolahan purun menjadi kerajinan dapat dilakukan dengan sederhana. 1. Tumbuhan purun diseleksi terlebih dahulu, biasanya dipilih purun yang tinggi sekitar 1.5 m - 2 m atau berumur 2 bulan tergantung dengan jenis anyaman yang akan dibuat. 2. Setelah itu purun diambil dengan cara dicabut, pencabutan dilakukan guna mencegah terambil dan rusaknya anakan purun. 3. Setelah diambil, purun dikumpulkan lalu diikiat untuk dibawa ketempat produksi. 4. Setalah itu, purun ditumbuk dan dijemur selama 2 hari dibawah sinar matahari. 5. Selanjutnya, purun yang telah dijemur, 6. Masuk ke tahap perebusan bahan pewarnaan, 7. Lalu kembali ditumbuk dan dijemur. 8. Purun dianyaman sesuai motif dan jenis anyaman yang akan dibuat.

Motif purun di daerah Pedamaran memiliki dua motif andalan, namanya Sisik Salak dan Pejalur. Motif tersebut berdasarkan teknik dan pewarnaan pada bahan tikar. Untuk motif, dipakai pewarna alami yang disebut kesumbo (sumbo) terbuat dari getah tanaman. motif sisik salak biasa dipakai jika ada acara lamaran.

Selanjutnya ada juga motif tikar yang disebut sisik salam (berwarna) yaitu tikar yang biasa digunakan atau dipakai jika ada tamu, dan tikar polos putih yang biasa digunakan sebaqai tikar makan dan alas untuk sholat.

Tikar Purun menjadi Produk andalan bagi Masyarakat Pedamaran karena dengan tikar purun ini sangat membantu ekonomi keluarga dan bagi beberapa rumah tangga, anyaman purun bahkan menjadi sumber penghidupan utama.

kerajianan_purun.jpg

kerajinan_dari_purun.jpgFig. 1: kerajinan dari purun

Purun merupakan tanaman liar yang tumbuh di rawa-rawa. Purun adalah vegetasi penciri ekosistem gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigEkosistem Gambut

Pemerintah Indonesia mendefinisikan ekosistem gambut sebagai tatanan unsur gambut yang merupakan satu kesatuan utuh menyeluruh yang saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitasnya. Definisi ini kemudian diperkuat dengan penegasan batasan dan cakupan ekosistem
yang memiliki kedalaman genangan yang sangat ekstrim.Tanaman purun sendiri hampir sama dengan jenis pandan yang hidup di air khusunya rawa-rawa. Bentuk batang purun sendiri ialah semakin panjang batangnnya maka ujungnya semakin kecil yang berwarna merah atau kecoklatan. Contoh sebaran purun yang terkenal adalah di daerah Sepucuk, Kecamatan Pedamaran dan Pedamaran Timur. Seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi maka purun bisa dimanfaatkan dalam bentuk lain seperti sedotan organik dari batang purun. Tanaman purun sendiri banyak memiliki manfaat salah satunya pengganti sedotan plastik ke sedotan organik. Sedotan dari purun dinilai sangat bernilai positif bagi lingkungan. Hal ini disebabkan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan pengurangan penggunaan sedotan plastik. Penggunaan sedotan purun dinilai tidak merusak lahan gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigLahan Gambut

Lahan gambut merupakan bagian dari lanskap ekosistem gambut, salah satu ekosistem khas lahan basah yang dimiliki Indonesia. Gambut berasal dari tanah yang terdapat akumulasi sisa-sisa makhluk hidup yang melapuk, mengandung bahan organik >12% dengan ketebalan lebih dari 50 cm
serta dalam penggunaannya juga mudah terurai walau pemanfaatannya hanya sekali pakai.

Purun (Lepironia articulata) termasuk anggota suku teki-tekian (Cyperaceae) yang sudah sering digunakan untuk bahan anyaman. Keberadaaan purun digambut seringkali menimbulkan masalah ketika masuk musim kemarau hal ini disebabkan keringnya air yang terdapat di lahan rawa gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
sehingga menyebabkan kebakaran lahan dan hutan. Bagi masyarakat Pedamaran Timur, Khususnya Desa Pulau Geronggang, rawa gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigGambut

<[lahan gambut]Ekosistem Gambut Primer di Laboratorium Alam CIMPTROP, Kalimantan Tengah>

Gambut merupakan material organik yang terbentuk secara alami berasal dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna dengan ketebalan 50 (lima puluh) centimeter atau lebih dan terakumulasi pada areal rawa. Secara harfiah Gambut berasal dari bahasa Banjar untuk menyebut tanah non-mineral yang berasal dari akumulasi bahan organik yang tidak terdekomposisi sempurna pada daerah depresi. Bany…
dan purun memiliki hubungan yang sangat erat terkait kearifan lokalnya. Kerajinan Purun sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat Desa Pulau Geronggang. Perkiraannya, sebelum kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1900-an.

Saat ini purun tidak hanya menjadi anyaman tikar, tetapi juga bisa menjadi aneka produk fashion ramah lingkungan, seperti aksesoris, tas, sandal, sepatu, dan pakaian. Penggunaan purun juga bisa mengurangi limbah plastik. Melalui forum High- Level Thematic Debate on Tourism di Sidang Umum PBB Menparekraf Ri Sandiaga Uno memperkenalkan Purun Eco Sraw. Melalui Sidang Umum PBB tersebut, diharapkan bisa membuka jalan bagi pasar dunia untuk mengenal penggunaan Purun.

Saat ini penggunaan purun hanya sebatas anyaman tikar. Seiring perkembangan zaman, masyarakat sekarang cenderung menggunakan tikar sintetis yang terbuat dari plastik. Sehingga membuat permintaan anyaman tikar purun menurun. Melalui kemajuan ilmu pengetahuan, purun bisa dikembangkan lebih inovatif lagi seperti pot organik yang terbuat purun. Pot organik dari purun bisa digunakan untuk pembibitan pohon sebagai pengganti pot plastik yang sering digunakan saat ini. Sehingga hal ini berdampak pada pengurangan penggunaan plastik pada lingkungan. Selain itu, juga bisa menambah pendapatan yang ikut membantu masyarakat yang ada di sekitar lahan gambutplugin-autotooltip__default plugin-autotooltip_bigLahan Gambut

Lahan gambut merupakan bagian dari lanskap ekosistem gambut, salah satu ekosistem khas lahan basah yang dimiliki Indonesia. Gambut berasal dari tanah yang terdapat akumulasi sisa-sisa makhluk hidup yang melapuk, mengandung bahan organik >12% dengan ketebalan lebih dari 50 cm
.

Referensi :

https://www.antaranews.com/berita/2200666/mengangkat-purun-jadi-produk-fesyen-dunia

https://www.antaranews.com/berita/1280231/menyulap-gulma-jadi-sedotan-ramah-lingkungan-hingga-mendunia

  • tumbuhan/purun.txt
  • Last modified: 2023/07/29 03:10
  • by Muhammad Fatih Abdillah